HousingEstate, Jakarta - Menurut Edward Kusma, Direktur Gunas Land, pengembang Vida Bekasi (140 ha) di kawasan Narogong, koridor Jalan Raya Siliwangi, secara umum harga properti di Bekasi masih di bawah (under price) bila merujuk ke kawasan industri Cikarang-Bekasi yang harganya sudah Rp3 juta-Rp4 juta/m2, sementara di Kota Bekasi hanya terpaut lebih tinggi Rp1 jutaan. Seiring pembangunan infrastruktur yang luar biasa, ke depan perkembangan wilayah ini akan sangat baik.

DUA TOL BESAR JAKARTA CIKAMPEK(JAPEK) SISI SELATAN DAN JORR 2 RUAS CIMANGGIS-CILEUNGSI AKAN MEMBUAT WILAYAH NAROGONG MAKIN MUDAH DIAKSES.

“Selama ini awareness orang mengenai Bekasi terlanjur under estimate, khususnya dari orang di luar Bekasi. Yang dilihat dari wilayah ini hanya macet, banjir, kriminalitas, pokoknya yang jelek-jelek sehingga ini branding yang terbangun soal Bekasi. Nanti kita lihat kalau infrastruktur gede-gedean ini jadi, baru akan terasa impact-nya dan nggak mungkin kalau infrastruktur ini nggak angkat prospek Bekasi,” katanya.

Lebih khusus lagi kawasan di sekitaran perumahan Vida Bekasi, Edward menyebut kawasannya akan menjadi sangat strategis. Saat ini pun progres peningkatannya sudah mulai terlihat sejak beroperasinya satu seksi jalan tol Becakayu. Gambaran kawasan ini akan seperti wilayah Serpong di Tangerang, Banten, yang langsung melonjak setelah akses tolnya jadi.

Dua akses jalan tol besar Japek sisi selatan dan Cimanggis-Cileungsi akan menjadi satu-satunya di wilayah Jabodetabek, karena dua jalan tol itu akan meng-connect langsung wilayah Narogong. Gambarannya akan seperti Jalan Prof Dr Satrio di Jakarta Selatan, yang menghubungkan Jalan Sudirman dan Kuningan sehingga akan menciptakan trafik yang besar di wilayah itu.

Kelebihan lainnya, wilayah Narogong secara kawasan masih menawarkan lahanlahan yang cukup luas untuk pengembangan properti. Dengan adanya pengembangan berbagai infrastruktur itu, lahan-lahan tersebut menjadi lebih valuable. Saat ini pengembangan sudah terjadi untuk layer kedua di luar kawasan industry. Pada saatnya pengembangan akan merambah ke pusat industry, sementara industriindustrinya akan bergeser.

“Jadi, wilayah sini juga akan seperti koridor Daan Mogot di Jakarta, yang dulunya juga industri dan seiring kawasannya makin valuable dibuat untuk apartemen dan fasilitas komersial. Itulah keuntungan wilayah sini. Karena lahannya luas-luas, pengembangannya untuk residensial, komersial, dan proyek mixed use yang ditunjang dengan aksesibiltas yang makin mudah dengan adanya pembangunan infrastruktur tadi,” tuturnya.

Potensi lainnya dari populasi dan pertambahan angka kelahiran yang sangat tinggi di Bekasi, sehingga menciptakan pasar yang besar. Kebanyakan orang tahunya kota terpadat itu Jakarta, Surabaya, Medan. Padahal, peringkat ketiga saat ini sudah dipegang Bekasi yang penduduknya 2,7 juta orang dengan pertambahan penduduk mencapai 100 ribu orang per tahun.

“Karena itu potensi Bekasi untuk pengembangan properti sangat besar. Saya juga berani bilang kalau di Bekasi ini pertumbuhan nilai propertinya yang paling riil dibandingkan, misalnya di Serpong yang kebanyakan untuk investasi. Soalnya produk-produk properti di Bekasi antara 70-80 persen dibeli end user. Terbukti juga di Vida Bekasi. Lima tahun lalu jual rumah Rp500 juta dimarahin orang, sekarang Rp700 juta-Rp1 miliar bisa. Artinya marketnya growing dan itu riil,” kata Edward.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer)
atau
Unduh versi digitalnya MyEdisi