HousingEstate, Jakarta - Dalam rangkaian Bintaro Design District (BDD) 2019, pameran bersama arsitek yang berkantor di daerah Bintaro, Jakarta Selatan, dan sekitarnya, arsitek Yori Antar membuka kantornya PT Han Awal & Partners Architects (HAP) di Pondok Aren, Tangerang Selatan, untuk memamerkan kehidupan Suku Dayak Iban di Sungai Utik, Kalimantan Barat.

Pameran bertajuk “Mother Earth and Architecture” ini berlangsung sejak 28 November hingga 7 Desember 2019. Pameran juga dilengkapi dengan talkshow, bazaar seni, dan workshop tentang daur ulang. Selain di dalam kantor HAP, di SDN Pondok Pucung yang lokasinya berdekatan juga dibuat instalasi “Peek A Boo” yang terdiri dari empat kotak stainless steel untuk menarik perhatian pelajar SD mengintip ke dalam kotak tersebut.

Sementara dalam talkshow yang digelar Rabu (4/12/2019), dihadirkan secara khusus tetua Suku Dayak Iban Apai Janggut. Pameran ini mengangkat tema utama mengenai upaya pelestarian arsitektur tradisional di daerah Sungai Utik, pedalaman Kalimantan Barat, itu. Yori dengan Yayasan Rumah Asuh yang digagasnya sejak 2008, ingin menggugah kesadaran tentang rumah tradisional yang semakin langka dengan menyelamatkan bangunan dan teknik membangun tradisional di Indonesia.

“Kita tidak datang ke pelosok daerah untuk memberi arahan kepada masyarakat bagaimana membangun secara modern, tetapi justru belajar membangun dari masyarakat tradisional secara bottom up sehingga mengenali potensi arsitektur tradisional di Indonesia,” kata Yori Antar dalam konferensi pers “Mother Earth and Architecture” di kantor PT Han Awal & Partners Architects di Pondok Aren, Tangerang Selatan, hari itu.

Foto dan maket rumah panjang suku Dayak Iban, Kalimantan Barat (foto: HousingEstate/Susilo Waluyo)

Yori juga menggandeng Yayasan Widya Cahaya Nusantara (YWCaN) dan Tirto Utomo Foundation untuk mewujudkan bangunan rumah budaya di Sungai Utik, menjadi wadah aktivitas masyarakat tradisional dan jembatan generasi muda mempelajari budayanya sendiri. Rumah budaya ini dirancang mengikuti tipologi Rumah Panjang yang menjadi ciri khas hunian masyarakat Dayak.

Material bangunan didapat dari daerah setempat, salah satunya menggunakan kulit kayu sebagai lapisan dinding rumah. Selain itu juga akan dibangun satu rumah ibadah gereja Katolik yang dirancang dengan menggali nilai-nilai dan kearifan lokal setempat.

“Kami tidak membangun gereja bertema klasik atau modern, tetapi mengikuti bentuk-bentuk bangunan tradisional di sana,” jelas Yori. Puncak pameran akan diselenggarakan pada Jumat (6/12) berupa malam seni dan budaya bertajuk “Dayak Melihat Dunia”. Atraksi tarian Dayak, seni tato Dayak, dan pertunjukkan musik khas Dayak dengan senjata Sape akan ditampilkan dalam acara tersebut. “Kita ingin membuka mata publik dan berharap dunia bisa mengenal keindahan dan luhurnya budaya Suku Dayak Iban,” pungkas Yori.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #191 Edisi Juli 2020