HousingEstate, Jakarta - Parung Panjang, Bogor, dikenal pertama kali karena Perumnas membangun perumahan menengah bawah di wilayah itu akhir tahun 90. Sekarang wilayah yang dilintasi KRL tanah Abang (Jakarta)- Bintaro-Serpong-Parung Panjang- Tigaraksa-Tenjo-Maja-Rangkasbitung dan tidak jauh dari Serpong, kiblat pengembangan real estate di megapolitan Jabodetabek itu, sudah berubah. Tumbuh jadi sentra pengembangan rumah menengah.

Banyak yang melirik rumah di Parung Panjang karena harga rumah di Serpong sudah melangit. Inilah yang membuat Perumnas Parayasa (212 ha) yang dikembangkan Perumnas diminati. Parayasa berada di Perumnas Parung Panjang sektor 5, terpisah dengan empat sektor pengembangan sebelumnya yang menyasar kalangan menengah ke bawah.

Prima Ramadhian, Project Manager Perumnas
Parayasa

Konsep pengembangan Parayasa mengintegrasikan hunian dengan area komersial, fasilitas pendukung, dan transportasi massal. Dari stasiun KRL Parung Panjang sekitar 4 km. Perumnas bersama PT KAI akan membangun stasiun baru di kawasan Parayasa. Dekat staisun akan dikembangkan commuter junction, area komersial untuk ritel, kafe, dan kuliner. Sementara perumahan sendiri akan dilengkapi area komersial, pasar modern, pusat olahraga, dan water park.

Untuk memudahkan mobilitas warga, dekat gerbang perumahan di Jl Salimah akan dibangun flyover yang mengoneksikan stasiun, hunian, dan area komersial. Konsep yang ditawarkan Parayasa diminati. Sebanyak 350 rumah di klaster B yang dipasarkan Juli 2019 terjual habis dalam empat bulan. Tipe rumahnya 27/72, 36/72, 45/96 seharga Rp300-500 jutaan. “Paling laku tipe 27/72 seharga Rp310 juta,” kata Prima Ramadhian, Project Manager Perumnas Parayasa. Saat ini dipasarkan klaster ketiga berisi tipe yang sama. Tahun lalu Perumnas juga sukses memasarkan klaster A 500 unit yang seluruhnya dibeli pegawai BPK.

Stasiun baru yang rencananya dibangun tahun 2020 itu lokasinya hanya beberapa ratus meter dari klaster A dan B. Jadi, penghuni yang hendak naik kereta cukup berjalan kaki atau bersepeda ke stasiun. Perjalanan dari stasiun Perumnas Parayasa ke stasiun Tanah Abang hanya 50 menit dan 10 menit lagi ke stasiun Sudirman di kawasan pusat bisnis utama Jakarta. “Sangat efisien, cepat, dan murah,” ujar Prima.

Bahkan, dari Parung Panjang dengan KRL ke stasiun Cisauk yang terintegrasi dengan BSD City di Serpong yang berfasilitas sangat lengkap hanya 20 menit. Sementara harga rumahnya bagai bumi dan langit. Di Serpong rata-rata sudah di atas Rp1 miliar, di Parayasa mulai Rp300 jutaan.

Daya tarik Parayasa berikutnya adalah cara bayarnya yang cukup ringan dan fleksibel. Setelah mengambil nomor urut pemesanan (NUP) senilai Rp1 juta, konsumen bisa memilih unit dengan menyetor tanda jadi Rp4 juta. Uang mukanya bisa lima atau 10 persen masingmasing dicicil enam bulan. Ini memudahkan konsumen yang tidak siap dengan uang tunai cukup besar di awal transaksi. Selain itu harga yang ditawarkan sudah all in alias termasuk PPN, BPHTB, AJB, dan biaya notaris. Konsumen tidak mengeluarkan dana tambahan lagi.