HousingEstate, Jakarta - Dalam berbagai kesempatan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono kerap menyebut pentingnya punya intelektualitas (IQ), akhlakul karimah (EQ), dan jiwa seni (SQ), selain kemampuan bekerjasama, karena akan membuat seseorang menjadi kompeten, kuat, mampu berinovasi dan berimprovisasi. “Kita harus memposisikan diri jadi orang yang bermanfaat untuk tim dan bukan sebaliknya. Punya kompetensi yang tinggi dengan sendirinya membuat kita jadi dibutuhkan. Jangan bermimpi bisa jadi pemimpin, tapi jadilah orang yang dibutuhkan karena punya kompetensi,” katanya.

Pria kelahiran Surakarta, 5 November 1954, ini bukan hanya omong tapi membuktikannya. Berbekal IQ, EQ, dan SQ itu, Pegawai Teladan Kementerian Pekerjaan Umum tahun 1995 ini sudah memegang aneka jabatan selama 40 tahun karirnya di kementerian itu, termasuk Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (2005-2007), Inspektur Jenderal (2007-2013), dan Dirjen Penataan Ruang (2013-2014) sebelum ditunjuk menjadi menteri.

Ketika sebagian ruas jalan tol Purbaleunyi amblas beberapa bulan setelah beroperasi, perekayasa utama kehormatan bidang infrastruktur dari BPPT, serta penerima penghargaan dari berbagai lembaga termasuk Anugrah Herman Johannes dari UGM dan Ganesha Praja Manggala dari ITB, ini yang diminta membereskan. Begitu pula saat mencuatnya kasus lumpur Lapindo, sarjana teknik geologi UGM ini pula yang didapuk menjadi ketua tim penanggulangannya.

Yang masih segar di ingatan, suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, yang salah satunya karena beresnya semua infrastruktur yang dibutuhkan perhelatan se-Asia itu. Tanpa banyak omong Basuki menuntaskan tugasnya sebagai penanggung jawab pembangunan infrastruktur itu.

Tidak berhenti di situ. Apa saja infrastruktur yang diminta dikembangkan oleh pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla (2005-2019), dilaksanakan dengan baik oleh magister teknik sipil dari Colorado State University, Amerika Serikat, ini. Mulai dari jalan tol, jalan raya non tol, jembatan, irigasi, bendungan, sampai perumahan. Hasilnya, peringkat daya saing infrastruktur Indonesia naik dari posisi 61 tahun 2013 menjadi 52 tahun 2018.

Sepanjang 2015-2019 Kementerian PUPR berhasil membangun 61 bendungan, satu juta hektar jaringan irigasi baru, 3.867 km jalan nasional, 1.500 km jalan tol, 58 km jembatan, dan tujuh kawasan pengembangan perbatasan negara. Basuki juga berhasil membangun sistem penyediaan air minum (SPAM) 25.366 liter/detik, akses sanitasi untuk 10,2 juta KK, perbaikan 32 ribu hektar kawasan kumuh, dan 4,79 juta unit rumah bersama pemda, BUMN, developer swasta, dan swadaya masyarakat.

Tahun 2018 untuk pertama kalinya target pembangunan rumah dalam gerakan pembangunan sejuta rumah itu melampaui satu juta unit. Tahun ini realisasinya juga di atas satu juta. Di tengah kesibukannya yang super padat, Basuki tetap concern terhadap program pembangunan perumahan rakyat kendati anggarannya bagai bumi dan langit dibanding infrastruktur, dan tetap menjadikannya sebagai salah satu prioritas. Doktor teknik sipil dari Colorado Stae University ini akomodatif dan fleksibel terhadap aneka keluhan terkait pembangunan perumahan rakyat itu. Karena segudang prestasinya itu, Housing Estate Awards 2019 menganugerahi Basuki special award kategori The Best Minister for Achievers.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #190 Edisi Juni 2020