HousingEstate, Jakarta - Menurut Anton Sitorus, Head of Rsearch and Consultancy Savills Indonesia, perusahaan konsultan, riset, dan manajemen properti asing di jakarta, masih terus melemahnya sektor properti sejak tahun 2014 lalu juga karena opini yang berkembang, bukan karena faktor teknis. Bila merujuk pada data, fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat yang ditunjang oleh pertumbuhan ekonomi yang juga baik, demografi yang besar yang semuanya membutuhkan properti, dan lain sebagainya.

“Jadi periode 5-6 tahun terakhir ini sektor properti kita seperti ini, penyebabnya juga kita sendiri yang terlalu sering membicarakan diri dalam kondisi susah. Padahal, kalau dilihat dari sisi orang luar, di sini sangat bagus dan merupakan negara yang masih menawarkan pertumbuhan baik. Akhirnya bisnis properti kita sulit seperti ini juga karena dibentuk opini, bukan berdasarkan data,” katanya saat paparan kondisi pasar properti 2019 dan prediksi 2020 versi Savills di Jakarta, Rabu (23/1/2020).

Ia mencontohkan situasi di bursa saham yang bisa naik atau turun dengan cepat hanya karena statement atau pemberitaan negative, bukan berdasarkan data teknis. Karena itu menjadi lazim bagian public relation (PR) sebuah perusahaan menjadi lebih penting dibandingkan bagian lain seperti marketing dan teknik, karena PR kerap mengeluarkan statement yang lebih cepat diterima masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai lima persen juga disebut tertinggi dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN. Di Thailand pertumbuhan ekonominya hanya tiga koma sekian persen, tapi seperti tidak ada krisis karena semuanya berjalan relatif baik. Bahkan mal-malnya saat pergantian tahun mengadakan sale hingga 50 persen langsung diserbu konsumen, sementara hal yang sama di Jakarta dengan diskon mencapai 70 persen malnya tetap sepi.

“Kita harus kembali berpatokan pada data-data yang terjadi di pasar dan kalkulasi angka dengan perhitungan bisnis. Percayalah, fundamental bisnis properti kita sangat baik sehingga tidak ada alasan tahun ini properti tidak segera bangkit. Itu juga terbukti tahun 2019 sudah terlihat ada kenaikan baik dari sisi take up unit apartemen, harga sewa mal dan perkantoran. Situasi the worst sudah berlalu dan sekarang tinggal kita menggairahkan pasar,” jelas Anton.