HousingEstate, Jakarta - Graha Raya (350 ha) di Pondok Jagung, Serpong Utara, Kota Tangerang Selatan (Banten), adalah salah satu proyek hunian besutan PT Jaya Real Property Tbk (JRP). Lokasinya diapit kota baru berfasilitas lengkap Bintaro Jaya (2.377 ha) yang juga dikembangkan JRP di Pondok Aren (Tangerang Selatan), dan Alam Sutera di Serpong dari PT Alam Sutera Realty Tbk.

Sejak 5-6 tahun lalu Graha Raya fokus mengembangkan hunian kompak 1-2 lantai untuk kaum muda, menyusul makin tingginya harga tanahnya. Kalau 5-6 tahun lalu harga tanahnya masih Rp5-6 juta/m2, sekarang sudah Rp8-10 juta. Kendati demikian, harga tanah itu masih jauh lebih rendah dibanding harga tanah di dua kota baru itu. Karena itu rumah di Graha Raya bisa jadi pilihan kaum muda yang belum mampu menjangkau harga rumah di Bintaro Jaya dan Alam Sutera.

Apalagi, fasilitas Graha Raya juga kian lengkap dengan infrastruktur seperti jalan yang lebar dan terawat rapi. Mulai dari ratusan unit ruko yang sudah hidup, supermarket Giant, Pasar Modern, Pasar Segar, hipermarket Transmart Carrefour, spot centre dan Splash Waterpark yang akan dilengkapi kolam arus, sekolah-sekolah, resto-resto cepat saji, bus In Trans Graha Raya ke Bintaro Jaya dan Jakarta, sentra tanaman, dan lain-lain. Perumahan juga sudah ramai, dihuni hampir 10.000 KK. Akses perumahan makin mudah dengan beroperasinya tol JORR 2 Serpong-Kunciran dan busway layang Ciledug-Jakarta,

Maret mendatang Graha Raya meluncurkan klaster baru Damara (1,7 ha) di kawasan Silk Town (60 ha), berisi 134 rumah kompak tipe 33-74 satu dan dua lantai di atas kaveling 60 m2. Harganya mulai dari Rp900 jutaan sampai Rp1,4 miliar. Medio Februari sudah dilansir klaster Neo Padma berisi 34 rumah tipe 33/60 seharga mulai dari Rp500 jutaan/unit di koridor bulevar utama.

Menurut Adyuta Danapramita, Manager Pemasaran Graha Raya, rumah yang paling kuat pasarnya di Graha Raya berada di range Rp700 jutaan sampai Rp1,2 miliar. Tipe rumah yang paling diminati, dua lantai tiga kamar tidur. Konsumennya 50 persen berusia antara 25-35 tahun. “Karena itu kita konsisten melansir klaster-klaster hunian berisi rumah-rumah kompak untuk kalangan muda itu,” katanya dalam jumpa pers sebelum mengajak sejumlah jurnalis melakukan press tour singkat di kawasan perumahan itu, Jumat (21/2/2020).

Karena konsisten meluncurkan rumah-rumah menengah tersebut, ia mengaku secara umum target penjualan Graha Raya selalu tercapai. “Tahun lalu target Rp400 miliar bisa tercapai. Rata-rata kita bisa menjual 30-40 rumah per bulan,” ungkapnya.

Ia mengakui, banjir besar saat pergantian tahun awal Januari sempat menggenangi beberapa klaster di Graha Raya. Tapi, hal itu tidak mengurangi minat konsumen. Pasalnya, banjir itu memang sukar dihindari karena curah hujan yang tinggi dan kurangnya pemeliharaan dua kali yang melalui areal perumahan. “Kedua sungai itu mengalami sendimentasi, padahal curah hujan jauh melampaui curah tahun-tahun sebelumnya,” kata Adyuta. Selain itu genangan air tersebut juga dengan cepat surut.

Sekarang aliran kedua sungai itu yang melintasi kawasan Graha Raya sepanjang 2 km sudah dinormalisasi JRP dengan izin Pemkot. Terbukti setelah itu tak ada areal Graha Raya yang tergenang kendati terjadi beberapa kali hujan lebat sepanjang Januari-Februari.

Di luar dua klaster itu Graha Raya masih memasarkan 50-an rumah di klaster Fortune Height (3,2 ha/264 unit) yang dirilis April 2019 di kawasan Fortune (40 ha). Total sudah tujuh klaster dikembangkan di kawasan ini. Tipe rumah di Fortune Height 30-67 satu sampai dua lantai di atas kaveling 60 dan 72 m2. Harganya mulai dari Rp800 jutaan/unit. Sebagian rumah di klaster ini sudah mulai terbangun.