HousingEstate, Jakarta - Teknologi konstruksi modular atau disebut juga Offsite Construction diproyeksikan akan menjadi solusi konstruksi masa depan. Dalam metode modular, seluruh komponen konstruksi dirangkai di luar lokasi proyek dan dikombinasikan menjadi kesatuan volumetrik bangunan. Penggunaan metode tersebut unggul dalam hal efisiensi waktu pekerjaan, ramah lingkungan dan kualitas bangunan. PT Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk (Wika Gedung/WG) sejak 2018 lalu mulai memasuki bisnis konstruksi modular dengan brand Modular. Aplikasi produk untuk konstruksi sederhana mulai dari  kios, rumah, hingga bangunan tinggi. WG menggunakan modul rangka baja sebagai struktur utama dengan varian produk paling sederhana WG Flatpack.

Salah satu proyek yang telah dirampungkan dengan Modular adalah Kios ritel Halal Park di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.  Untuk berbagi wawasan mengenai teknologi konstruksi modular kepada para pelaku bisnis konstruksi terkait, WG menggelar acara diskusi bertajuk “Let’s Talk Modular” pada 5 Maret lalu di Jakarta. Acara dikemas dalam dua sesi dengan menghadirkan pembicara dari kalangan pengusaha, arsitek, dan ahli konstruksi yakni,  arsitek Riri Yakub dari Atelier Riri Architect, Ketua Umum Ikatan Ahli Pracetak dan Prategang Indonesia (IAPPI) Hari Nugraha Nurjaman, Tim Ahli Bangunan Gedung (TABG) Mekanikal Elektrikal Soekartono Sowearno, dan CEO Bobobox Indra Gunawan.  “Kami optimis, teknologi modular mendatangkan manfaat lebih besar baik secara finansial maupun kualitas ketimbang teknologi konvensional,” ujar Nur Al Fata,  Direktur Pengembangan PT Wijaya Karya Bangunan Gedung, Tbk dalam siaran pers yang diterima HousingEstate (10/3).