HousingEstate, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menerbitkan aturan mengenai relaksasi cicilan KPR bagi masyarakat yang kesulitan akibat wabah Covid-19. Aturan ini pun langsung direspon oleh kalangan perbankan, termasuk Bank BTN yang bisnisnya fokus pada pembiayaan  perumahan.

Menurut Nixon L.P. Napitupulu, Direktur Finance, Plannning, & Treasury Bank BTN, sejak merebaknya Covid-19 Bank BTN telah menerima puluhan ribu permohonan keringanan atau restrukturisasi cicilan KPR-nya. Bank BTN pun terus melakukan proses klarifikasi dari debitur yang mengajukan tersebut.

“Dari puluhan ribu pengajuan kami sudah melakukan restrukturisasi  lebih dari 17 ribu nasabah. Kemudahannya berupa pembebasan bunga hingga pembayaran pokok untuk periode sampai satu tahun. Kami memiliki sekitar dua juta debitur dengan total pokok pinjaman senilai lebih dari Rp250 triliun, 17 ribu yang direstrukturisasi ini nilai pinjaman pokoknya mencapai Rp2,7 triliun,” ujarnya dalam siaran pers yang diterbitkan di Jakarta, Rabu (15/4).

Untuk memudahkan nasabah yang hendak mengajukan restrukturisasi kreditnya, Bank BTN menerapkan kanal online di rumahmurahbtn.co.id sehingga nasabah pemohon tidak perlu datang ke kantor Bank BTN penerbit kreditnya. Terkait keluhan adanya proses yang cukup lama hal itu tidak terlepas dari aturan OJK yang memberlakukan keringanan ini khusus pada nasabah yang benar-benar terdampak Covid-19 sehingga perlu ada klarifikasi yang membutuhkan proses.

Terkait pandemi ini, Nixon juga menyebut akan ada koreksi terkait kinerja Bank BTN pada tahun ini. Untuk  pertumbuhan kredit kisarannnya menjadi 0-3 persen sementara untuk penyaluran KPR subsidi program pemerintah target pertumbuhannya pada kisaran 6-8 persen dan ini pun masih bergantung pada periode berakhirnya Covid-19. Bank BTN juga tetap optimistis untuk bisa meraih laba bersih pada tahun ini sekitar Rp2 triliun.

“Kondisi seperti ini kita lebih fokus untuk peningkatan efisiensi dan memperkuat cadangan maupun likuiditas supaya bisa tetap survive. Untuk menjaga likuiditas kami secara hati-hati melakukan pembelian surat utang pemerintah untuk memastikan cadangan dana tetap aman. Kami menganggarkan Rp20 trilin untuk cadangan likuiditas dan penyaluran kredit  juga masih tetap berjalan dengan peningkatan keamanan terkait wabah ini. Semoga kondisi ini tidak akan lama sehingga semuanya bisa kembali berjalan normal,” imbuhnya.