HousingEstate, Jakarta - Kendati Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah mengeluarkan aturan stimulus restrukturisasi kredit pelaksanaannya di lapangan tidak seperti yang diharapkan. Kalangan perbankan tidak serta merta melaksanakannya karena berbagai alasan dan pertimbangan. Relaksasi kredit itu dikeluarkan OJK untuk membantu kalangan pengusaha yang kesulitan sebagai dampak pandemi Covid 19.  Ketua  Umum Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida menyebutkan, sampai saat ini kalangan pengembang masih kesulitan meminta penundaan pembayaran kredit dari perbankan meski sudah mengajukan sesuai kebijakan OJK.

“Pengusaha saat ini kesulitan hebat dan sebagian besar tidak bisa lagi membayar cicilan ke bank tapi bank masih enggan memberikan penundaan pembayaran. Bank setengah hati untuk memberikan kemudahan, padahal  kalau tidak ada stimulus malah bisa terjadi kredit macet yang dampaknya bisa lebih besar,” ujarnya kepada kalangan media di Jakarta, Senin (18/5).

Menanggapi keinginan pengembang tersebut  Direktur Utama Bank BTN Pahala N. Mansury menyatakan, sebelum memberikan relaksasi kredit pihaknya akan melakukan review terlebih dulu.  Manurutnya, permintaan restrukturisasi atau penundaan pembayaran kredit akan dilihat per kasus atau masing-masing debitur. Dari review itu akan terlihat apakah debitur tersebut hanya bisa membayar pokok, bayar bunga, atau harus menunda seluruh pembiayaannya. “Jadi semuanya harus berdasarkan review,  kami tidak bisa langsung memberikan restrukturisasi sesuai kemauannya pengembang. Harus kita lihat per developer dan pada prinsipnya kewajiban  pokok dan bunga harus tetap diselesaikan setelah nanti pandemi Covid-19  berakhir atau situasi kembali normal,” ujarnya.

Dalam situasi bisnis sekarang bank harus meningkatkan prinsip kehati-hatiannya. Segala  risiko harus dihitung dan dimitigasi. Terkait hal itu Pahala mengakui BTN saat ini lebih ketat dalam memberikan kredit. Permohonan KPR dari kalangan pekerja swasta banyak yang ditolak. BTN lebih mengutamakan ASN atau karyawan BUMN yang penghasilannya lebih terjamin.

“Sekarang kalau ada yang mengajukan kredit harus dipastikan dulu perusahaannya terdampak atau tidak dengan wabah ini. Jangan-jangan perusahaannya sudah tidak beroperasi dan pekerjanya sudah dipotong gajinya atau di-PHK,”  ujarnya.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate