HousingEstate, Jakarta - Permintaan rumah subsidi  tetap tinggi sekalipun negeri ini tengah dilanda panemik covid-19. “Rata-rata orang yang  mendaftar  melalui aplikasi Sistem Informasi KPR Subsidi Perumahan (SiKasep) mencapai 750 per hari,” kata Arief Sabaruddin, Direktur Utama Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) saat menjadi pembicara di  TV Berita Satu yang menggelar diskusi online tentang Relaksasi KPR. Tapi menurutnya jumlah itu sudah turun jauh dibandingkan rata-rata pemesanan diaplikasi yang sama sebelum pandemic yang per harinya lebih dari 3,000.

Menurutnya, total pemesan rumah subsidi dari tgl 1 Januari hingga 19 Mei 2020 mencapai 179,822 orang. Dari jumlah itu 51,218 diantaranya sudah akad kredit alias sudah mendapatkan rumah. Jumlah realisasi KPR tersebut sudah 50 persen dari kuota KPR subsidi  yang bersumber dari FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) tahun 2020 sebesar 102 ribu unit. “Para pendaftar yang belum mendapatkan KPR FLPP akan mendapatkan KPR subsidi dari program Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT),” katanya.

Patokan harga baru rumah subsidi 2020 sesuai Keputusan Menpupera No. 535/KPTS/M/2019 yang berlaku per tanggal 2 April 2020  diklasifikasi sesuai wilayahnya. Adapun  perincinannya, wilayah Jawa (kecuali Jabodetabek) dan Sumatera (kecuali Kepulauan Riau, Bangka Belitung, dan Kepulauan Mentawai) harganya ditetapkan Rp150,5 juta. Wilayah Kalimantan (kecuali Kabupaten Murung Raya dan Kabupaten Mahakam Ulu)  Rp164,5 juta.

Untuk wilayah Sulewesi, Bangka Belitung, Kepulauan Mentawai, dan Kepulauan Riau (kecuali Kepulauan Anambas) harga rumah subsidi ditetapkan Rp156,5 juta. Wilayah Maluku, Maluku Utara, Bali, dan Nusa Tenggara, Jabodetabek, Kepulauan Anambas, Kabupaten Murung Raya, dan Mahakam Ulu  sebesar Rp168 juta, sedangkan di Papua dan Papua Barat paling tinggi, yaitu Rp219 juta.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate