HousingEstate, Jakarta - Colliers International Indonesia (CII) kembali merilis kondisi property market untuk periode kuartal kedua (Q2) tahun 2020. Situasi bisnis properti yang masih mengalami kelesuan kian diperburuk dengan adanya pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020 sehingga membuat sektor properti secara umum masih tertekan.

Menurut Ferry Salanto, Associate Director of Research CII, khusus untuk sektor apartemen di Jakarta, pelemahannya sudah sejak tahun 2015 yang ditandai dengan tingkat penyerapan atau take up rate yang terus menurun. “Take up rate apartemen di Jakarta sejak tahun 2015 hingga Q2 2020 ini terus turun, jadi bukan semata dampak pandemi tapi memang tren penurunannya sudah sejak lama, pandemi memperparah situasi itu,” katanya kepada housingestate.id saat paparan property market Q2 2020 untuk Jakarta dan Surabaya secara online, Rabu (8/7).

Ferry merinci, sejak tahun 2015 penyerapan unit apartemen di Jakarta sebanyak 10.620 unit. Pada tahun 2016 menjadi 8.867 unit, 2017 sebanyak 8.243 unit, 2018 turun menjadi 5.898 unit, 2019 turun lagi menjadi 4.682 unit dan Q2 2020 ini hanya 1.214 unit. Sejak tahun lalu, CII memprediksi untuk take up rate unit apartemen di Jakarta mencapai 11.834 unit dan dikoreksi menjadi hanya 2.011 unit untuk tahun 2020 dan ini menjadi koreksi yang paling tinggi yang pernah terjadi.

Penurunan ini tidak terlepas dari mayoritas segmen konsumen apartemen dari kalangan investor ketimbang pengguna (end user). Investor mengharapkan unit yang dibeli bisa menghasilkan keuntungan baik dari peningkatan nilai (capital gain) maupun untuk disewakan (yield). Pelemahan bisnis sejak tahun 2015 lalu membuat pasar sewa apartemen terus menurun dan di sisi lain pengembang terus masuk ke pasar sehingga situasinya menjadi berlebih pasokan (over supply).

Para investor ini juga harus mengeluarkan biaya pajak, maintenance, hingga service charge sehingga tidak tertarik lagi untuk membeli unit baru karena unit yang sudah dimiliki akhirnya menjadi beban. Situasi ini yang akhirnya membuat pasar apartemen terus tertekan dan konsumen investor ini wait and see.

Hal ini juga akhirnya membuat situasi pasar lebih berpihak pada demand market karena semua pengembang menawarkan gimmick marketing untuk bisa membukukan penjualan. Tidak ada pengembang yang berani menaikan harga dan ini juga ditunjang dengan kemudahan dari perbankan dan situasi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang terus menurun.

“Jadi untuk kalangan end user sekarang ini justru good timing untuk membeli. Kalau sudah ada niat dan dananya ada segera saja dibelikan properti khususnya yang segmen menengah ke bawah. Bunga bank lagi bersahabat dan developer nggak akan berani menerapkan margin yang besar seperti saat situasi normal, jadi kalau beli sekarang justru akan mendapatkan harga yang sangat bagus,” beber Ferry.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #191 Edisi Juli 2020