HousingEstate, Jakarta - Perusahaan pengembang PT Cowell Development Tbk berada di ambang pailit setelah salah satu kreditornya, PT Multi Cakra Kencana Abadi mengajukan permohonan pailit atas utang Cowell sebesar Rp53,4 miliar  yang jatuh tempo pada 24 Maret 2020. Tim kurator langsung bekerja membuat jadwal mulai dari rapat kreditor, batas pengajuan penagihan, hingga proses verifikasi untuk pencocokan piutang.

Emiten properti berkode saham COWL ini diajukan pailit oleh kreditor ke Pengadilan Negeri (PN) Niaga Jakarta Pusat. Berdasarkan pengumuman tim kurator yang tertera di surat kabar nasional, para debitur, kreditur, dan pihak lainnya diminta untuk mengikuti agenda sidang di PN Jakarta Pusat pada Rabu, 22 Juli 2020.

Karena hal ini, saham COWL langsung disuspensi atau dibekukan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan sudah tidak bisa diperdagangkan lagi sejak tanggal 13 Juli 2020. Perusahaan yang berdiri sejak tahun 1981 ini memiliki kapitalisasi pasar di BEI senilai Rp243,56 miliar.

Menurut Tim Kuasa Hukum Cowell Jimmy Siamanjuntak, nanti pada rapat kreditur perdana seluruh pihak yang hadir akan disampaikan perkembangan hingga berdiskusi mengenai permohonan kepailitan perusahaan ini.

“Dari pihak Cowell sendiri masih terus berupaya untuk mencapai perdamaian dalam proses pailit karena ini baru diajukan oleh salah satu pihak. Nanti ada momen untuk menyampaikan perkembangan dan diskusi lebih lanjut mengenai permohonan kepailitan ini dan dari kami sendiri masih akan mengupayakan perdamaian,” ujarnya dalam keteranagnnya kepada media pekan lalu.

 

Masih terlalu dini

Masih ada beberapa proses yang harus dilakukan, misalnya berapa jumlah kewajiban utang dan ini harus dicocokkan dengan rapat piutang kreditur. Pada proses ini Cowell akan menyampaikan poin-poin terkait tawaran perdamaian yang diajukan. Proses ini juga disebut Jimmy masih terlalu dini karena UU telah mengatur untuk proses kepailitan seperti ini.

“Jadi pailit ini bukan diajukan dari Cowell tapi dari salah satu kreditor yang mengajukan permohonan pailit pada 17 Juni 2020 lalu ke pengadilan niaga dan pengedilan negeri untuk hutang senilai Rp53,4 miliar. Utang ini digunakan untuk memenuhi biaya operasional perusahaan dan nilainya hanya 1,93 dari total utang Cowell,” beber Jimmy.

Cowell saat ini tengah mengembangkan beberapa proyek properti residensial seperti kawasan mixed use The Oasis di Cikarang (Bekasi-Jawa Barat), apartemen Lexington Residence di Jl Deplu Raya (Jakarta Selatan), perumahan Melati Mas Residence, Serpong Park, Serpong Terrace, dan La Verde  (Tangerang Selatan-Banten), perumahan Borneo Paradiso  di Balikpapan (Kalimantan Timur). Cowell juga merupakan pengembang beberapa proyek komersial seperti Plaza Atrium dan Cowell Tower di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

close
GRATIS | Majalah HousingEstate #191 Edisi Juli 2020