HousingEstate, Jakarta - Kolaborasi berbagai entitas keuangan dan perumahan diyakini dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang saat ini menjadi fokus pemerintah untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri. Pasalnya potensi dan daya ungkit dari dua sektor tersebut sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, program PEN merupakan bagian dari kebijakan luar biasa yang diambil pemerintah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19 khususnya dampak terhadap ekonomi yang beberapa sektornya mengalami penurunan tajam akibat wabah.

“PEN juga digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor ini. Kami juga berharap sektor perumahan khususnya Bank BTN, PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), dan pihak swasta untuk terus melakukan berbagai terobosan dan terus menciptakan permintaan supaya ini mendorong multiplayer effect dari sektor lain dan pemulihan ekonomi bisa lebih cepat,” ujarnya dalam Webinar Percepatan Pemulihan Sektor Perumahan Menghadapi Dampak Lanjutan Pandemi dan Upaya Percepatan Pemulihan Sektor Perumahan, Rabu (29/7).

Indonesia, lanjut Suhasil, masih lebih baik dibandingkan negara lain yang pertumbuhan ekonomi negaranya selama dua kuartal berturut-turut negatif sehingga situasinya sudah resesi. Indonesia, negatif baru pada kuartal kedua atau periode April-Juni, sehingga untuk kuartal ketiga (Juli-September) bila bisa diupayakan positif tidak menuju ke jurang resesi.

“Saat ini situasinya tidak ada pilihan karena kita harus menerapkan banyak pembatasan untuk pandemi yang belum ada vaksin dan obatnya. Di sisi lain ekonomi harus tetap bergerak dengan berbagai kendala dan pembatasan itu, tapi kalau semua disiplin, kolaborasi, kreatif, harapannya kita bisa lewati ini dengan lebih baik,” imbuhnya.

Direktur Utama Bank BTN Pahala Nugraha Mansury menambahkan, sebagai salah satu entitas perbankan dalam ekosistem perumahan, diperlukan adanya keberpihakan pemerintah mulai dari aturan hingga penempatan dana negara untuk menambah likuiditas. Hal ini tidak terlepas dari dampak ekonomi jangka panjang dari kredit yang disalurkan oleh Bank BTN.

“Kami telah menerima dana negara sebesar Rp5 triliun pada medio Juni lalu dan ini harus terserap habis pada akhir Juli 2020. Targetnya, dana Rp5 triliun ini harus bisa jadi Rp15 triliun dalam enam bulan bahkan Rp30 triliun dalam setahun. Kami sendiri cukup optimistis, data penyaluran kredit khusus KPR subsidi pada Mei jumlah aplikasi yang masuk sebanyak 7.470 debitur. Pada Juni langsung meningkat jadi 12.981 debitur dan yang bisa akad hanya lima ribuan, jadi potensinya sangat besar,” katanya.