HousingEstate, Jakarta - Pengembang Australia Crown Group akan meluncurkan proyek apartemen terbaru  Art Is  di 175 Sturt Street, wilayah sub urban Melbourne, Australia. Art Is dibangun di atas lahan seluas 2.070 m2, terdiri atas dua tower, dengan jumlah hunian sebanyak 153 unit.

Menariknya, Indonesia akan menjadi lokasi pertama diluncurkannya proyek ini pada awal November 2020. Menurut Iwan Sunito, owner Crown Group, Indonesia merupakan foreign buyer terbesar setelah Cina,  “Crown Group ingin memberikan kesempatan yang baik untuk konsumen serta tim penjualan di Indonesia. Setelah Indonesia, pelucuran berikutnya akan kami lakukan di 14 kota di Cina, baru kemudian untuk konsumen lokal (Australia) hingga akhir tahun ini,” katanya.

Masih menurut Iwan, proyek ini  sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu. “Kami sangat exciting karena peluncurannya  ternyata dilakukan saat situasi pandemi Covid-19,” katanya saat memperkenalkan proyek ini ke kalangan media di Indonesia melalui platform Zoom, Selasa (13/10).

Kiprah Crown Group sebagai pengembang telah dimulai sejak tahun 1996 dan sudah merasakan berbagai krisis, mulai dari krisis lokal, krisis Asia, krisisi global, hingga krisis karena pandemi ini.  Iwan meyakini setiap terjadi krisis selau ada peluang atau potensi yang muncul.

Lokasi Art Is by Crown Group ini hanya 1,5 km dari CBD Melbourne. Proyek ini menyediakan tipe 1-3 bedroom (BR) berukuran 48-130 m2 dan penthouse hingga 229 m2, harga mulai 400 ribu-500 ribu dollar Australia untuk tipe 1 BR. Proyek ini akan mulai dibangun (groundbreaking) tahun 2021 mendatang dengan target diserah-terimakan tahun 2024.

Di proyek ini Crown Group juga kembali menggandeng Arsitek Koichi Takada untuk mengonsepnya   agar menjadi  bangunan ikonik di kawasan. Sang arsitek menerapkan konsep seni gerak (art in motion)  dalam bentuk gerak garis-garis bangunan yang bisa berbah, bergerak dan dinamis (changing, moving, dan dynamic).

Gedung berkonsep art ini juga sesuai dengan konsep pemerintah negara bagian yang akan me-redevelop kawasan  menjadi  pusat seni  dengan menghadirkan  gedung-gedung ikonik.

“Melbourne bisa menjadi alternatif konsumen Indonesia memiliki properti di Australia. Pertama, karena  harganya lebih rendah dibandingkan Sydney namun menawarkan potensi yang sangat baik. Kedua, suplai apartemen di Melburne saat ini  masih terbatas dibandingkan dengan pertumbuhan populasi dan banyaknya kampus ternama,” ujarnya.