HousingEstate, Jakarta - Pertengahan  Agustus lalu, empat hari sebelum perayaan 17 Agustus 2020,  HousingEstate bersama sejumlah pengurus Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (HIMPERRA), baik yang duduk di Dewan Pimpinan Pusat (DPP) maupun di Dewan Pimpinan Daerah (DPD) DKI Jakarta, berkesempatan mengunjungi Banyuwangi, kabupaten paling timur di Provinsi Jawa Timur dan paling timur pula posisinya di Pulau Jawa.

“Kami memilih Banyuwangi karena ingin melihat dari dekat keberhasilan kabupaten ini dalam menata kota dan meningkatkan kunjungan pariwisata, di samping ingin melihat keindahan obyek-obyek wisatanya,” kata Aviv Mustaghfirin, ketua rombongan sekaligus Ketua DPD HIMPERRA DKI Jakarta.

Meskipun jalan tol Trans Jawa sudah sampai Probolinggo, tapi untuk menghemat waktu kami memilih naik pesawat. Dari Bandara Soekarno Hatta ke Banyuwangi International Airport hanya butuh waktu sekitar 1,5 jam dengan Airbus A320. Berdasarkan data yang tertera di aplikasi Peduli Lindungi, Banyuwangi berada di zona hijau. Artinya, di kabupaten seluas 5.782 km2 ini belum ada warganya yang terdeteksi terinveksi virus Covid-19.  Cukup aman.

Meskipun demikian, pemerintah daerah setempat tetap ketat dalam menegakkan protokol kesehatan. Di semua area publik pengunjung diwajibkan memakai masker, mengatur jarak (social distancing), dan selalu tersedia tempat untuk cuci tangan.

Banyuwangi International Airport, sebagian atapnya dijadikan  roof garden

Sego tempong

Ketika turun dari pesawat waktu sudah mendekati pukul 13.00. Agenda kami yang pertama adalah  makan siang dengan menu nasi tempong di warung Sego Tempong Mbok Nah, Jalan Kolonel Sugiono. Masakan khas Banyuwangi yang satu ini berupa nasi putih dikasih sayur rebus bayam, kenikir, kacang panjang, kol, dan sawi, serta daun kemangi dan irisan timun segar, lalu disiram sambal mentah pedas. Untuk lauknya ada tempe, tahu, dan telur dadar. Biasanya orang masih menambahkan ayam, lele, ati ampela, atau udang goreng. Satu porsi di luar lauk tambahan ditarif Rp7.000.

Sego Tempong

Meskipun bersantap di warung sederhana, rasanya maknyus sehingga seluruh anggota rombongan terpuaskan. Perjalanan kemudian diteruskan ke Taman Nasional Baluran. Lokasinya persis di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, dengan waktu tempuh sekitar satu jam.  Di destinasi wisata pertama yang terkenal dengan sebutan Africa van Java ini rencananya kami akan melihat hewan-hewan liar di  padang savana yang sangat luas. Sayang, sesampainya di lokasi ternyata ditutup karena pandemic Covid-19.

Untung, tidak jauh dari situ ada obyek wisata lain, yaitu Waduk Bajulmati. Sama seperti Taman Nasional Baluran, lokasi waduk berada di dekat jalan pantura Situbondo-Banyuwangi. Keistimewaan waduk seluas 113 hektar yang menampung 10 juta meter kubik air ini, di tengahnya ada beberapa pulau kecil yang dari kejauhan menyerupai pemandangan di Raja Ampat, Papua. Menarik dijadikan tempat selfi atau wefi.

Waduk Bajulmati dibangun pemerintah tahun 2006 hingga 2015, dan mulai diisi air 2016. Sumber airnya dari sungai Bajulmati yang bermuara di Gunung Ijen. Waduk ini berfungsi  mengairi sawah 1.800 hektar di Banyuwangi dan Situbondo, sekaligus sumber air bersih bagi Kota Banyuwangi dengan debit 110 liter per detik. Belakangan juga menjadi destinasi wisata menarik di Banyuwangi, meskipun pintu masuknya sudah berada di wilayah Kabupaten Situbondo.

Waduk Bajulmati

Destinasi wisata berikutnya adalah Pantai Bangsring. Lokasinya juga Jalan Pantura Situbondo-Banyuwangi, sekitar 20 menit dari Taman Nasional  Baluran. Hanya lokasinya masuk sekitar 1 km lewat jalan kampung. Bus dilarang masuk. Penggantinya pakai ojek atau mobil kecil. Pantai Bangsring terkenal dengan keindahan alam bawah airnya, baik ikan maupun terumbu karang. Untuk menikmatinya kita harus naik perahu ke rumah apung sekitar 300 m dari bibir pantai. Biaya retribusinya satu orang Rp5.000. Ditambah sewa alat snorkeling (baju apung dan alat untuk bernafas di air) Rp30 ribu. Bagi yang tidak bisa berenang tidak perlu kawatir. Tersedia jasa instruktur bertarif Rp30 ribu yang dapat memandu 5-6 orang.

Waktu dua jam terasa cepat berlalu berwisata di pantai indah yang dikelola secara swadaya oleh nelayan setempat ini. Pantainya bersih, begitu pula air lautnya, jernih dan ombaknya tenang, sehingga kita bisa leluasa melihat ikan-ikan yang berwarna-warni  berkeliaran di sekitar rumah apung. Bahkan, bagi yang berani berenang sedikit ketengah, bisa menikmati keindahan terumbu karangnya.

Snorkeling di Pantai Bangsring

Desa adat suku Osing

Selepas maghrib kami baru meninggalkan pantai Bangsring menuju Hotel Sahid Osing yang terletak di Kemiren, desa adat yang dihuni oleh suku Osing, suku asli Banyuwangi. Kami memilih bermalam di hotel bintang tiga ini karena lokasinya strategis, berada di jalan utama antara Kota Banyuwangi dan kawasan wisata Ijen.

Esok harinya kami jalan pagi menyusuri perkampungan Suku Osing di sekitar hotel. Rata-rata lingkungannya bersih dan rapi. Sebagian besar rumahnya juga masih asli, terutama jika dilihat dari atapnya yang berbentuk tikel balung (memiliki empat bidang atap), dinding depan dari kayu (gebyog), dinding samping dan belakang dari gedheg (anyaman bambu), serta memiliki serambi depan yang cukup luas.

Agenda kami di hari kedua adalah mengunjungi obyek wisata De Djawatan dan Pantai Pulau Merah. De Djawatan adalah lahan bekas penampungan kayu jati yang penuh pohon trembessi milik Perum Perhutani di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, sekitar 31 km atau satu jam perjalanan dari Kota Banyuwangi.

Rumah Suku Osing

Mirip hutan Fangorn (Selandia Baru)

Hutan ini terkenal karena pohon-pohon trembesinya yang berukuran besar dan tua, rimbun, cabangnya menjulur panjang, tumpang tindih dengan cabang-cabang pohon lain, lembab, sehingga semua cabangnya dipenuhi oleh paku-pakuan dan simbar. Pemandangannya sangat eksotis, banyak orang menyebutnya mirip hutan Fangorn di Selandia Baru di film Lord of The Rings. Instagramable. Karena itu semakin banyak wisatawan yang mengunjunginya. Harga tiketnya Rp5.000 per orang.

De Jawatan

Setelah puas mengambil foto di De Djawatan, kami melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Pantai Pulau Merah di Kecamatan Pesanggaran, sekitar satu jam perjalanan dari De Djawatan. Selama perjalanan di kanan-kiri jalan hampir seluruhnya terhampar kebun cabai, jeruk, dan buah naga. Kami pun sempat berhenti di salah satu kebun petani yang dijadikan tempat wisata petik buah. Di sini si pemilik kebun tidak hanya mengajarkan cara petik buah naga, tapi juga cara merangsang bunga dan mengawinkannya agar tanaman berbuah sepanjang tahun. Buah naga yang kami petik langsung disuruh mencicipi. Wuih….segar sekali. Kami pun beli untuk oleh-oleh. Harga buah naga yang diklaim organik ini dibandrol Rp18 ribu/kg, jeruk Rp8.000/kg.

Sekitar setengah jam kemudian kami sampai di Pantai Pulau Merah. Pantai ini terkenal karena cukup landai, tidak berkarang, pasirnya putih, ombaknya cukup besar sehingga banyak anak-anak yang latihan berselancar, serta ada pemandangan menarik ke tengah laut, berupa sebuah bukit nan hijau menjulang tinggi dengan tanah berwarna merah. Pulau Merah itu  berjarak sekitar 300 meter dari bibir pantai. Menurut warga setempat, saat air laut surut pulau tersebut dapat dikunjungi dengan berjalan kaki. Kami tidak menunggu sunset karena pantai ini memang tidak menyajikan keindahan pemandangan matahari saat terbenam.

Pulau Merah

Kawah Wurung

Sebelum kembali ke hotel, kami bersantap malam dengan menu masakan khas Banyuwangi pecel pitik. Pecel pitik adalah hidangan khas suku Osing. Pada zaman dulu masakan ini hanya dihidangkan pada saat ada acara slametan. Makanan ini dibuat dengan bahan utama ayam kampung muda yang dipanggang utuh, lalu penyajiannya disuwir-suwir, dicampur dengan parutan kelapa muda mentah yang dicampur bumbu bawang merah dan putih, kacang tanah, kencur, daun jeruk, cabe rawit, dan terasi. Rasanya lezat sekali.

Hari ketiga kami giliran ke Kawah Wurung. Dari Kota Banyuwangi rutenya sama dengan ke Kawah Gunung Ijen, hanya lebih jauh sedikit. Kalau ke Kawah Ijen sekitar 45 menit, ke Kawah Wurung satu jam lebih sedikit. Lokasinya sudah masuk wilayah Kabupaten Bondowoso, tepatnya di desa Jampit, Kecamatan Sempol. Kawah artinya puncak gunung berapi berbentuk lekukan yang dilewati bahan letusan, sedangkan Wurung (bahasa Jawa) artinya sesuatu yang gagal. Jadi Kawah Wurung dapat diartikan kawah atau kaldera yang tidak jadi. Dasar kawah kering, sangat luas, ditumbuhi rerumputan. Masyarakat setempat menjadikannya sebagai tempat mengembang-biakkan sapi. Jumlahnya ratusan dan dibiarkan hidup bebas.

Yang menawan di Kawah Wurung ini adalah pemandangannya. Topografi alamnya yang berbukit-bukit dengan  lereng yang curam, luasnya mungkin mencapai ribuan hektar, seluruhnya hijau kekuning-kuningan, warna khas rerumputan yang mulai diguyur hujan setelah kemarau panjang. Jarang sekali ada pohon besar yang terlihat di sini. Mirip sabana. Para pengunjung menyebutnya Bukit Teletabis. Sangat instagramable. Banyak sekali spot foto yang menarik. Kami pun mengambil gambar banyak sekali. Di sini udaranya sejuk dan silir, ada angin yang terus bertiup perlahan-lahan. Ketika matahari posisinya hampir di atas kepala, panasnya tidak terasa menyengat di kulit. Waktu kami pulang pukul 11.00 WIB lebih, para pengunjung yang lain tetap betah menikmati keindahan alam di sini.

Rujak soto

Sebetulnya saat meninggalkan Kawah Wurung perut sudah lapar, tapi kami berupaya menahannya sekitar satu jam karena diagendakan makan siang dengan menu khas Banyuwangi rujak soto di warung Losari, Jl Progo, Kepatihan, tidak jauh dari Masjid Agung Baiturrahman dan Rumah Dinas Bupati Banyuwangi yang menghadap ke ruang terbuka hijau Taman Sritanjung.

Rujak Soto

Rujak soto adalah gabungan dua masakan: rujak dan soto. Adapun isinya lontong dipotong-potong, irisan timun dan tempe goreng, sayuran pecel yang terdiri dari kangkung, daun turi, kacang panjang, dan kecambah, lalu disiram bumbu kacang agak kental, ditaburi bawang goreng serta seledri. Setelah racikan pecel itu siap, kemudian disiram kuah soto kuning berisi jeroan (usus dan babat) serta kikil, emping, dan kerupuk udang. Rasanya gurih dan bertekstur. Sangat nikmat.

Habis menikmati rujak soto, kami mampir sebentar ke Boom Beach (kawasan pantai dengan view menawan ke Pulau Bali), sebelum kembali ke hotel untuk beristirahat karena tengah malam harus berangkat ke Kawah Ijen.

 

Kawah Ijen

Tepat pukul 00.15 wib kami berangkat. Dari hotel ke Paltuding, titik awal menuju Kawah Ijen, butuh waktu sekitar 45 menit. Rencana mulai mendaki pukul 01.00 wib agar pada pukul 03.00 sudah sampai puncak melihat api berwarna biru (atau populer disebut blue fire) yang menyala di antara bongkahan belerang di dekat kawah. Tapi, sayang dengan alasan pandemi, loket untuk beli karcis masuk baru dibuka pukul 03.00 wib. Karena antriannya panjang, kami baru mendapatkan karcis pukul 03.30 wib. Pupuslah sudah harapan kami untuk melihat keajaiban alam yang hanya ada dua di dunia itu.

Jarak dari Paltuding ke bibir kawah sebetulnya hanya 3 km. Tapi, karena jalannya menanjak tajam, rata-rata kemiringannya 45-60 derajat, waktu pendakian butuh 2-2,5 jam. Bagi yang tidak kuat, tersedia kereta yang ditarik oleh tiga orang. Ongkosnya Rp800 ribu pergi pulang. Selepas pukul 05.00 sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan gugusan gunung dan lembah yang sangat dalam yang indahnya luar biasa. Awan pun ada di bawah kita.

Alhamdulillah, sebelum pukul 06.00 sudah sampai di bibir kawah, sehingga kami masih bisa merasakan sensasi pemandangan saat matahari terbit. Pemandangan dari segala arah, 360 derajad, sangat bagus, sangat menakjubkan. Ke bawah kita melihat kawah berwarna hijau dengan kepulan asap belerang. Tidak henti-hentinya kami bersyukur dan menyebut kebesaran Tuhan. Terbayar lunas seluruh tenaga yang terkuras selama pendakian.

tersedia kereta dorong bagi pendaki yang tidak kuat tenaganya untuk mendaki

suasana di Puncak Ijen saat menjelang matahari terbit

Ari Tri Priyono, anggota rombongan yang paling berpengalaman mendaki gunung