HousingEstate, Jakarta - Resesi akibat berbagai hal termasuk pandemi seperti sekarang ini, adalah saat yang tepat untuk berinvestasi dalam properti, karena harganya sedang rendah. Untuk itu tinggal bekerja keras mencari properti di lokasi favorit dengan harga diskon paling menguntungkan.

“Ingat ya, investasi, bukan spekulasi. Itu berarti kita harus memperlakukan properti  sebagai investasi jangka panjang, bukan mau segera djual lagi,” kata pakar marketing properti Andi K Natanael dalam perbincangan dengan housingestate.id di kantornya di kawasan Alam Sutera, Tangerang, Banten, akhir pekan lalu (8/1/2021).

Karena menjadi investasi jangka panjang, itu berarti kita hanya akan mendapat salah satu dari dua benefit investasi properti. Yaitu, yield dari pendapatan sewa. Sedangkan capital gain dari kenaikan nilainya akan didapat nanti sekian tahun kemudian saat propertinya dijual. Karena itu penting mencari properti dengan harga yang wajar di lokasi prospektif.

Andy menjelaskan, kalau properti yang dibeli dimaksudkan untuk dijual lagi dalam jangka pendek, tidak akan menguntungkan walaupun dibeli saat pandemi dengan harga diskon. Ia memberi ilustrasi. Sebuah properti dibeli dengan harga diskon 20 persen dari harga pasar saat ini. Harga diskon itu sudah murah.

Bila rumah itu mau segera dijual lagi setelah dibeli, pembeli pasti juga akan memminta diskon yang sama saat pandemi seperti sekarang ini, sehingga investor tidak mendapat cuan yang diharapkan. “Kecuali investor beli dengan harga diskon yang begitu besar, misalnya 30-40 persen. Tapi, ini pasti sangat sulit didapat dalam keadaan resesi sekalipun. Bisa juga supaya tetap untung, investor jualnya sama end user tanpa diskon. Tapi, pasar end user pasti juga sangat terbatas,” tuturnya.

Andy menyebutkan, investasi properti sama menguntungkannya baik dibeli tunai maupun dengan kredit bank. Tergantung bagaimana kita bisa mendapatkan properti dengan harga wajar di lokasi yang menguntungkan. “Ada yang menyebutkan, kalau investasinya pakai KPR, kenaikan nilai propertinya habis dimakan bunga bank. Salah, menurut saya,” ujarnya.

Menurut Andy, sepanjang bisa mendapatkan properti dengan harga wajar dan prospek menjanjikan, kita tetap untung berinvestasi pada properti dengan kredit bank. Ia memberi contoh sebuah rumah kecil dua lantai tipe 60/90 di sebuah perumahan besar menengah atas di Serpong, Tangerang, yang dibeli tahun 2005 seharga Rp350 juta/unit.

Sekarang harga pasarnya sudah Rp1,2 miliar, turun dibanding sebelum pandemi yang sempat menyentuh Rp1,4 miliar karena banyak yang meminatinya. Itu berarti nilainya naik hampir 400 persen dalam 15 tahun atau sekitar 27 persen setahun. Kalau bunga bank plus biaya-biaya dan pajak selama 15 tahun itu kita anggap 15 persen per tahun, investor tetap dapat untung bersih 12 persen.

“Jadi, di mana tidak untungnya investasi properti dengan kredit bank? Tinggal pandai-pandai mencari properti yang memang menguntungkan untuk investasi. Apalagi, kalau bisa dapat bunga promo yang rendah selama beberapa tahun pertama, keuntungannya tentu lebih besar. Bahkan, kalaupun rumah Rp1,2 miliar itu dijual saat ini dengan harga diskon lagi menjadi katakanlah Rp1 miliar, kenaikannya masih sekitar 300 persen selama 15 tahun, atau rata-rata 20 persen setahun. Tetap masih untung bersih lima persen, lebih tinggi dari bunga bersih deposito,” urai Andy.