HousingEstate, Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali mengeluarkan kebijakan baru sebagai tindak lanjut  kebijakan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Beleid ini dimasukkan ke dalam Paket Kebijakan Terpadu  Peningkatan Pembiayaan Dunia Usaha untuk percepatan ekonomi.

Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, salah satu kebijakan yang dikeluarkan yaitu pelonggaran loan to value (LTV) atau financing to value (FTV)  kredit pembiayaan properti menjadi paling tinggi, 100 persen, alias uang muka atau DP nol persen untuk semua jenis properti mulai rumah tapak, rumah susun, ruko/rukan, untuk bank yang memenuhi kriteria non performing loan (NPL) tertentu.

“Ketentuan ini berlaku efektif per  1 Maret 2021 hingga 31 Desember 2021. Ketentuan pencairan bertahap untuk properti inden juga dihapus untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor properti,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikeluarkan BI, Kamis (18/2).

Selain itu Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 17-18 Februari 2021 juga memutuskan untuk kembali menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,5 persen, suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, dan suku bunga lending facility 4,25 persen.

Ke depan, BI akan menggunakan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional dengan tetap menjaga terkendalinya inflasi dan memelihara stabilitas nilai tukar rupiah serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Koordinasi kebijakan dengan pemerintah daerah dan KSSK juga akan terus diperkuat.

Fokus BI lainnya yaitu pada upaya untuk mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit atau pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha khususnya pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional.

“Keputusan ini juga konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas nilai tukar rupiah yang terjaga sebagai langkah lanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional. Pemulihan perekonomian global juga diperkirakan akan semakin baik dengan implementasi vaksin Covid-19 sehingga mendorong mobilitas, BI akan meneruskan keberlanjutan stimulus kebijakan fiskal dan moneter,” imbuhnya.