HousingEstate, Jakarta - Australia disebut sebagai salah satu negara yang sukses menangani pandemi covid-19. Karena itu  Felicity Emmet dan Adelaide, Ekonom ANZ, salah satu bank terbesar di negeri konguru ini, meprediksi pasar real estate Australia 2021 akan mengalami lonjakan pertumbuhan akibat penerapan regulasi dan berbagai stimulus yang dikeluarkan pemerintah terkait pandemi.

Ekonom  ANZ itu memperkirakan harga real estate Australia tahun ini akan mengalami kenaikan  rata-rata 17 persen secara nasional pada akhir Desember. Hal ini akibat dari rendahnya suku bunga perbankan dan menguatnya permintaan real estate. “Permintaan yang kuat dan pasokan yang rendah menjadi kombinasi yang  mendorong kenaikan harga  real estate tinggi. Pembiayaan perumahan juga telah meningkat hingga 76 persen sejak titik terendah bulan Mei 2020,  investor pun telah kembali ke pasar, Auction Clearance Rates mendekati 80 persen,” katanya dalam siaran pers yang diterbitkan di Australia, Rabu (28/4).

Diprediksikan, di kota termahal Australia yaitu Sydney, akan mengalami pertumbuhan harga hingga 19 persen. Angka tersebut akan mendorong rata-rata harga hunian di Sydney menjadi 1,3 juta dollar Australia.

Kota lainnya yaitu Perth yang selama bertahun-tahun  selalu lesu persentase pertumbuhan harganya juga akan menyamai  Sydney, mencapai 19 persen. Selanjutnya tren postif ini akan diikuit oleh kota-kota lain seperti Hobart (18 persen), Melbourne, Brisbane, Canberra, dan Darwin, masing-masing tumbuh 16 persen. Adelaide akan menjadi kota dengan peringkat paling rendah sebesar 13 persen.

Lonjakan harga seperti ini terakhir kali terjadi pada periode akhir tahun 1980-an saat Australia memasuki masa berakhirnya resesi ekonomi. Menurut penelitian Reserve Bank of Australia, harga rumah akan naik 25 persen hingga tahun 2023 nanti.

Hal ini tentu menjadi indikator yang menggembirakan bagi kalangan developer maupun masyarakat konsumen. Menurut Tyas Sudaryomo, S&M Director Crown Group Indonesia, terus meningkatnya kepercayaan pasar pasca pandemi ini yang menguatkan sektor properti.

“Keyakinan pasar  kembali menguat  setelah pemerintah Australia berhasil mengatasi pandemi Covid-19. Salah satu kebijakan yang diberlakukan adalah memotong tingkat suku bunga hingga menciptakan rekor baru suku bunga terendah dalam sejarah Austalia. Ternyata kebijakan ini cukup sukses mendorong perbaikan ekonomi,” ujarnya.

Situasi ini akhirnya memperkuat keyakinan banyak pihak kalau proses perbaikan ekonomi di Australia bisa berjalan lebih cepat dari perkiraan awal. Hal ini juga yang mendorong tingkat keyakinan kalangan investor dan telah membuat jumlah permintaan pasca pandemi ini kembali naik setelah melandai pada tahun 2020 lalu.

“Australia merupakan negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat serta politik yang stabil di dunia. Reserve Bank of Australia memproyeksi pertumbuhan PDB sekitar 5 persen tahun ini sehingga sangat wajar apabila proses perbaikan ekonomi bisa lebih cepat dari perkiraan dan ini menjadi saat yang tepat untuk investor termasuk dari Indonesia untuk kembali masuk,” imbuhnya.