HousingEstate, Jakarta - Ismet Natakarmana (60) adalah satu dari sedikit broker property senior yang masih aktif. Ia sudah hampir 30 tahun menjadi marketing properti. Pertama kali terjun ke properti tahun 1992 di Lippo City (sekarang Lippo Cikarang) di Cikarang, Bekasi. Dimulai saat James Riady (bos Lippo Group) mengangkat Eddy Sindoro (terakhir bos Paramount Land, developer Paramount Serpong, Tangerang) menjadi dirut Lippo City setelah sukses menjadi dirut sebuah bank swasta.

“Pak Eddy kenal baik dengan Pak Andreas Nawawi (terakhir Marketing Director Paramount Serpong). Ia waktu itu memimpin perusahaan importir panci dari Perancis. Ia diajak Pak Eddy bergabung ke Lippo, karena tahu tim marketing dan klien Pak Andreas adalah ibu-ibu dari kalangan menengah atas. Saya diajak Pak Andreas ikut. Pak Andreas pun menggerakkan ibu-ibu itu memasarkan properti. Saya koordinator lapangannya. Ibu-ibu itu selain memasarkan juga beli sendiri untuk investasi. Makanya Lippo City laku keras waktu itu,” tuturnya.

Ismet hanya dua tahun di Lippo Cikarang. Selanjutnya mendirikan kantor agen property One Property. Satu saat ia mendapatkan challenge dari Grup Agung Sedayu untuk memasarkan 50 ruko di Taman Palem, Jakarta Barat, yang sudah lama tidak laku. Supaya menarik, ia datangkan sejumlah pedagang seafood dari Pecenongan, Jakarta Pusat, yang terkenal kelezatannya itu untuk membuka kedai di sana. “Saya buat semacam seafood city. Banyak yang datang, ramai, sehingga tertarik beli rukonya. Puji Tuhan 50 unit itu habis dalam setahun,” katanya.

Sukses di Taman Palem, ia dipercaya salah satu owner Binakarya Propertindo memasarkan ruko sisa di Mutiara Taman Palem di seberang komplek ruko Taman Palem yang juga sudah lama tidak laku. Ini pun sold out. Ismet kemudian mendapatkan tantangan lagi, memasarkan 20 ruko di Pademangan di seberang Mangga Dua Square, Jakarta Pusat. Komplek ruko ini tidak laku, karena hanya empat unit yang cukup strategis menghadap ke jalan raya. Selebihnya berada di belakang keempat ruko itu. Selain itu lokasinya berdekatan dengan gudang pemulung yang rentan kebakaran.

Ismet tahu banyak pedagang di Mangga Dua yang membutuhkan gudang, dan lokasi ruko itu tidak jauh dari pasar terkenal itu. Ia pun membuat program “beli ruko bonus gudang”. Luas bangunan rukonya dikurangi sehingga ada tanah kosong di belakang yang bisa difungsikan untuk gudang. Lahan kosong itu juga sekaligus berfungsi menjauhkan bangunan ruko dari pagar gudang pemulung. Akhirnya ruko-ruko itu sold out. Masih banyak pengalaman Ismet lainnya yang menarik, sehingga ia dikenal sebagai broker spesialis penjual properti-properti yang sulit dipasarkan.