HousingEstate, Jakarta - Dalam situasi ekonomi tidak menentu atau kondisi pandemic, properti tetap layak dilirik untuk alternatif  investasi.  Sektor ini menjadi salah satu pilihan investasi terbaik mengingat deposito dan saham  sedang kurang menjanjikan. Apalagi harga property saat ini sedang terkoreksi.  Sesuai siklus dalam beberapa tahun ke depan diproyeksikan pada saat ekonomi mulai recovery harga property akan bergerak naik. Karena itu peluang mendapatkan cuan terbuka lebar.

Sekarang banyak pemilik properti baik pengembang maupun individu  mau menjual propertinya dengan harga yang bagus. Sebagai investor Anda harus sabar dan pintar memilih produk yang akan dibeli. Disimpan dulu untuk beberapa waktu kemudian dijual saat situasi membaik.

sekarang waktu tepat berbelanja properti.

Cash is king

Investasi  dapat dimulai antara lain dengan membeli kaveling siap bangun, rumah inden atau siap huni dan ruko dari developer atau investor lain yang BU alias butuh uang.  Menurut pengalaman sejumlah pemain property untuk kasus seperti ini konsumen punya daya tawar tinggi. Lebih-lebih kalau bawa uang tunai ia bisa mendikte penjual. Ia bisa minta diskon lebih besar. Karena itu di saat pandemi sekarang lahir idiom baru cash is king, pemegang uang tunai bagai seorang raja. Bagi developer dana tunai di saat krisis adalah darah kehidupan.  Lebih baik untung tipis tapi dapat berjualan ketimbang berharap untung besar tapi tidak berjualan.  Karena itu melengkapi idiom sebelumnya  sekarang idiom baru yang populer di bisnis properti adalah cash is king, cash flow is queen.

Makanya tidak sedikit developer pasang diskon besar secara terbuka. BSD City, Jakarta Garden City, Asya beberapa contoh perumahan yang menawarkan  diskon besar. BSD memberikan diskon hingga 15 persen, sementara Asya memotong harga hingga Rp250 jutaan untuk rumah seharga Rp4,2 miliar. Dalam kondisi  normal tidak ada developer  yang mau menurunkan harga sebesar itu.  Mereka menyatakan, kalau harganya diturunkan investor yang sudah membeli akan marah.  Sekarang itu dikesampingkan dulu.

Siap huni

Diskon yang diberikan developer untuk rumah inden dan siap huni (ready stock) berbeda. Rumah siap huni diskonnya lebih besar. Kenapa?  Pengembang ingin rumahnya segera terjual karena kalau tidak uangnya bakal terbenam lebih lama di situ. Ini diterapkan oleh Jakarta Garden City dan BSD, dan sebagian besar developer lainnya. Di BSD misalnya, melalui program Wish for Home yang berlangsung Maret – Desember 2021 semua produk ready stock, seperti rumah, ruko, apartemen harganya dipangkas hingga 15 persen. Selain itu masih ada tambahan diskon beberapa persen dari nilai akad kredit, disamping diskon PPN.

Produk siap huni yang ditawarkan kondisinya bagus dan tidak ada bedanya dengan properti yang baru dibangun. Jadi, cukup menarik untuk langsung dihuni atau disewakan.  Konsumen yang tidak punya cadangan dana  cukup bisa membeli dengan fasilitas KPR yang bunganya cukup rendah dan fixed hingga 3-5 tahun. Selain itu uang mukanya (DP) ringan dan fleksibel. “Dalam situasi tertentu di saat pandemic pembayarannya negosiable,” ujar  Vivi Riberu, Marketing Manager Citra Indah City, Jonggol, Bogor.

Bandingkan

Kendati diskonnya besar  konsumen harus pintar mengkalkulasi. Bisa jadi harga properti sebelum pandemi sudah terlalu tinggi sehingga jatuhnya tetap mahal. Karena itu sebelum membeli bandingkan dulu dengan harga beberapa rumah seken yang sekelas dalam enam bulan terakhir di kawasan tersebut dan kawasan sekitarnya.  Nilai transaksi properti seken adalah potret harga pasar yang sesungguhnya, paling tidak mendekati harga riel.  Kalau harga dari developer sama atau selisihnya tipis boleh dianggap sudah wajar dan layak untuk dibeli.

Rumah seken juga demikian, bandingkan dengan harga transaksi rumah sejenis selama enam bulan hingga satu tahun terakhir di kawasan yang sama.  Selama periode tersebut di saat pasar sedang lesu seperti yang terjadi beberapa tahun terakhir harga tidak banyak berubah bahkan cenderung turun.  Selain itu harga rumah seken lebih masuk akal karena pemiliknya cenderung realistis dalam menentukan harga.

Cara berikutnya untuk mengetahui harga wajar dengan mengurangi 10-15 persen dari harga penawaran.  Kecuali penjualnya kepepet harganya bisa turun hingga 20 persen.