HousingEstate, Jakarta - Pergerakan pasar properti sejak pandemi awal 2020 naik turun, masih menunjukkan kondisi jangka pendek dan belum membentuk pola jangka panjang yang stabil. Meskipun mulai terjadi pertumbuhan tipis sejak semester dua 2020, pasar diperkirakan masih rentan terhadap penurunan yang lebih dalam. Pada semester pertama tahun ini,  pertumbuhan pasar perumahan di Jabodebek-Banten, mencakup lebih dari 50 persen pasar properti nasional, misalnya, mengalami kenaikan 12,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.  Beberapa faktor diperkirakan akan membawa dampak negatif terhadap pasar tahun ini.

“Secara fundamental sebenarnya pasar perumahan relatif tidak bermasalah. Tapi, (seperti ekonomi secara umum), faktor penentu terpenting sekaligus game changer adalah efektifitas vaksin dan meredanya pandemi. Selama hal itu belum dapat dikendalikan, pasar perumahan belum akan stabil dan berpotensi terpuruk lebih dalam tahun ini,” kata Ali Tranghanda, CEO dan founder Indonesia Property Watch (IPW), melalui keterangan tertulis kepada housingestate.id, Rabu (30/6/2021).

Kebijakan pemerintah menerapkan PPKM darurat yang lebih ketat karena meningkat pesatnya kasus Covid-19, misalnya, akan memengaruhi keinginan pasar membeli rumah, karena pasar melihat faktor ketidakpastian yang makin tinggi. Saat awal pandemi misalnya, IPW mencatat pasar properti anjlok sampai 50 persen lebih. “Penurunan tajam itu bukan karena pasar kehilangan daya beli, tapi karena pembatasan mobilitas yang ketat. Transaksi properti tidak bisa sepenuhnya dilakukan secara online. Calon konsumen perlu melihat lokasi dan bangunan rumahnya,” jelasnya.

Karena itu ia memprediksi, pengetatan PPKM akan membuat pasar perumahan  tumbuh lebih rendah. “Paling tidak pasar akan terkontraksi antara 5-10 persen dibanding tahun 2020,” tukasnya. Berbagai stimulus bidang properti akan sedikit membantu menstabilkan pasar, tapi tidak dapat dipastikan akan mendongkrak penjualan bila pengetatan terlalu lama. Namun, bila pandemi mereda dan pengetatan dilonggarkan, berbagai stimulus itu akan menjadi salah satu generator untuk mengangkat pasar.

Saat ini, ia menyebutkan, banyak pengembang terutama yang berskala menengah dan  kecil masih berjuang meretrukturisasi utangnya. Sebagian besar tidak akan lolos bila program restrukturisasi itu tidak diperpanjang, menyusul terganggunya cash flow mereka akibat pengetatan mobilitas. “Proses akad dan pertanahan juga akan terganggu, karena semua instansi melakukan WFH. Tanpa mengurangi optimisme, realitas di atas tetap harus dipertimbangkan agar kita tidak lengah dan mampu mengantispasi situasi pasar ke depan,” kata Ali.