HousingEstate, Jakarta - Makin banyak riset mengenai kaum milenial (lahir awal tahun 1980 sampai menjelang milenium kedua) yang dipublikasikan sekian tahun terakhir. Penelitian mengenai generasi langgas itui penting, karena pengaruh mereka yang kian besar terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk bisnis dan ekonomi. Salah satu yang terbaru, Indonesia Millennial Report 2019 besutan IDN Research Institute bersama Alvara Research Centre.

Laporan itu menyebutkan, bagi kaum milenial kebutuhan pokok itu adalah sandang, pangan, dan colokan (ponsel), bukan papan ditambah pendidikan dan kesehatan. Dua terakhir mungkin sudah dianggap given karena sudah tersedia cukup baik. Jadi, tidak perlu dipersoalkan lagi. Sedangkan papan sebagai hunian sekaligus investasi? Jawabannya tidak terlalu terang.

Riset itu sendiri menyatakan, 54 persen milenial menjadikan rumah dan membahagiakan orang tua sebagai prioritas masa depan. Disusul dengan menjadi orang tua yang baik (48,4 persen), pengusaha (32,1 persen), pekerjaan dengan gaji tinggi (29,4 persen), jadi orang kaya (24,9 persen), menolong orang (21,7 persen), memiliki kebebasan waktu (14,1 persen), menikah dan berkeluarga (11,2 persen), jadi orang religius ((10,7 persen), punya anak (0,1 persen), dan naik haji (0,1 persen).

Namun, anehnya hanya 2,2 persen dari penghasilan mereka yang digunakan untuk investasi, 3,3 persen untuk mencicil utang (antara lain kredit rumah selain kendaraan, produk elektronik dan lain-lain), dan 6,8 persen untuk asuransi (kesehatan, jiwa, pendidikan, kendaraan, dan lain-lain), dibanding pengeluaran untuk internet, telepon, dan hiburan yang masing-masing mencapai 6,8 persen 6 persen, dan 8 persen.

Sementara 51 persen penghasilan habis untuk pengeluaran rutin dan 10 persen ditabung di bank. Jangan heran, saat ini baru 35 persen milenial yang sudah punya rumah sendiri (rumah real estate 38,2 persen, non real estate 34,4 persen, apartemen 3,7 persen, dan perumahan kaveling 23,7 persen). Kalau membeli rumah, nyaris berimbang antara milenial yang ingin membeli secara kredit dan tunai, masing-masing sekitar 50 persen.

Pisau bermata dua

Hampir 95 persen milenial terkoneksi dengan internet, dan sekitar 65 persen tergolong kecanduan karena mengaksesnya lebih dari 4-13 jam sehari. Mereka juga sangat aktif di media sosial terutama facebook, instagram, dan twitter dengan up date status 2-5 kali sehari (79,5 persen) atau 6-8 kali (52,5 persen). Televisi dan media digital menjadi sarana utama mereka mendapatkan informasi. Mereka juga generasi yang cashless alias tidak suka banyak membawa uang tunai. Sebanyak 64,2 persen memiliki kartu debit, lainnya e-money, kartu kredit, mobile/internet banking, dan lain-lain.

Selain itu berbeda dengan generasi sebelumnya, hampir 70 persen milenial berminat membuka usaha sendiri. Kalaupun bekerja sebagai karyawan, sekitar 66 persen hanya betah bekerja di satu perusahaan 1-5 tahun, setelah itu pindah ke perusahaan lain. Alasan pindah yang utama, mencari fasilitas pengembangan diri dan gaji yang lebih baik serta lingkungan kerja yang lebih menyenangkan.

Milenial mendambakan pekerjaan yang memberikan kebebasan berkreasi, waktu fleksibel, dan bekerja secara tim. Inilah alasan sejumlah perusahaan merenovasi kantor menjadi lebih kekinian, untuk memacu kreatifitas dan mengurangi kejenuhan. Karena akses informasi yang tak terbatas di dunia maya, i-generation melihat jauh lebih banyak peluang, dan karena itu punya mimpi besar. Mereka jadi tidak mudah betah, selalu gelisah, dan lebih sulit diatur. Apalagi, dibanding generasi sebelumnya, mereka rata-rata lebih pintar.

Bagi developer real estate, hasil riset di atas sangat menantang. Berita bagusnya, lebih dari 50 persen milenial menjadikan rumah sebagai prioritas masa depannya. Itu berarti bisnis properti tetap punya prospek bagus. Masalahnya, apakah developer bisa menawarkan properti yang bisa menarik minat atau cocok dengan karakteristik mereka dan terjangkau harganya? Soalnya pola pengeluaran mereka yang sangat besar untuk konsumsi termasuk hiburan, tidak cocok dengan prioritas tersebut.

Ditambah lagi budaya non-tunai pada generasi connected itu seperti pisau bermata dua: membuat mereka kian boros atau sebaliknya lebih bisa mengontrol pengeluaran. Karena sangat aktif di dunia maya dan transaksi begitu mudah, tinggal pesan dan barang pun diantar, mereka bisa tanpa sadar terus memesan barang dan jasa yang menarik. “Sistem pembayaran yang makin mudah secara teori memang mendorong orang untuk bertransaksi,” kata Lana Soelistianingsih, dosen FEUI, seperti dikutip BBC Indonesia.

Khusus bagi kaum milenial yang belum mapan dalam karir dan penghasilan, transaksi non tunai yang ringkas itu bisa membuat mereka melupakan tabungan dan investasi. “Pembayaran yang serba virtual kerap tidak terasa. Pada usia tertentu baru sadar, uang saya habis, tapi belum punya aset,” jelasnya.

Modal beli rumah tapak

Minat kebanyakan mereka menjadi pengusaha, atau kalaupun bekerja sebagai karyawan, sebagian besar hanya betah beberapa tahun, merupakan tantangan lain. Apakah mereka layak mendapatkan dukungan KPR dari bank untuk membeli rumah? Atau ke depan untuk kaum milenial pola pengembangan huniannya harus berbeda? Misalnya, berbasis komunitas seperti yang akan menjadi salah satu fokus pemerintah cq Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)? Baru-baru ini pola itu diterapkan pada perumahan komunitas tukang cukur asal Garut (Jawa Barat).

Apapun, bagi milenial sendiri, investasi itu wajib. Salah satunya properti. Tidak seperti surat berharga, menurut pakar properti Heru Narwanto, properti satu-satunya investasi yang bisa langsung dinikmati. Artinya, kendati maksud kamu membeli rumah untuk didiami sendiri, namun  dengan sendirinya kamu sudah berinvestasi karena nilainya terus meningkat, bukan makin merosot. Supaya tidak terlalu mengganggu gaya hidup, perencana keuangan Aidil Akbar Madjid dalam sebuah wawancara dengan HousingEstate menyarankan milenial membeli rumah yang murah dulu, seperti apartemen tipe studio seharga Rp200–300 jutaan.

“Nanti setelah beberapa tahun dan punya anak, apartemennya bisa dijual. Hasilnya bersama tabungan bisa dipakai sebagai modal membeli rumah tapak,” kata founder firma keuangan Aidil Akbar Madjid (AAM) & Associates itu. Untuk berinvestasi milenial memang harus memaksakan diri menyisihkan sebagian penghasilannya, setidaknya 15 persen setiap bulan atau 30 persen kalau ada cicilan kredit rumah. Sisanya 70 persen untuk biaya hidup termasuk tabungan dan nongkrong atau traveling. “Kalau belum punya anak, pengeluaran rutin dan tabungan mungkin bisa ditekan, sehingga biaya nongkrong juga bisa lebih besar,” jelasnya.

Selain sebagai investasi yang bisa langsung dinikmati, properti juga memberikan kebanggaan dan gengsi kepada pemiliknya (pride of ownership), selain efektif sebagai agunan kredit dan menahan inflasi. Jadi, dengan berinvestasi dalam properti, setelah tua nanti kamu tetap bisa unjuk gigi, di dunia maya atau kehidupan nyata. Kalau tidak bisa sendiri, investasi bisa urunan dengan kawan-kawan (co-ownership). Investasinya kini juga tidak harus langsung, bisa melalui platform digital seperti Properti Anda, Nabung Properti, Dana Syariah Indonesia, dan Ethis Fintek Indonesia (Ethis Crowd). Jadi, kita tidak harus menyediakan dana besar.

Artikel ini sudah pernah ditayangkan di Majalah HousingEstate