HousingEstate, Jakarta - Sharp Corporation kembali menunjukkan keefektifan fitur Plasmacluster untuk menekan penularan Virus Corona. Titer atau kekuatan infeksi Virus Corona baru atau SARS-CoV-2 termasuk strain varian yang ada dalam air liur manusia dapat dikurangi lebih dari 99,4 persen dengan cara menyemburkan Ion Plasmacluster selama dua jam pada tingkat kelembaban di kisaran 60 persen (relative humidity).

Penelitian tersebut dilakukan di bawah pengawasan Prof. Hironori Yoshiyama dari Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Shimane, Prof. Shigeru Watanabe dari Fakultas Universitas Meikai, dan Prof. Masashi Yamakawa dari Departemen Teknik Mesin dan Sistem Institut Teknologi Kyoto, seperti ditulis Sharp Corporation dalam siaran pers-nya yang diterima housingestate.id pada Jumat (23/7).

Secara umum, cara penularan virus corona baru dibagi menjadi dua, yaitu penularan melalui droplet yang kemudian menyebarkan virus di udara, dan penularan kontak secara langsung dengan virus yang melekat pada permukaan sebuah benda. Berdasarkan hal tersebut pada September 2020 lalu, Sharp melakukan penelitian untuk menguji keefektifan teknologi Plasmacluster dalam mengurangi SARS-CoV-2 di udara dan berhasil membuktikan keefektifan Ion Plasmacluster dalam mengurangi SARS-CoV-2 yang menempel pada  permukaan benda.

Hasil simulasi kasus menunjukkan di mana ketika seseorang batuk di area ruangan dengan tingkat kelembaban berbeda, yaitu 30 dan 60 persen, memperlihatkan bahwa jumlah partikel droplet yang tersuspensi di udara disekitar orang dengan tingkat kelembaban ruangan 60 persen jauh lebih sedikit dan droplet akan langsung jatuh dan menempel pada permukaan meja. Bandingkan dengan seseorang yang berada dalam area ruangan dengan tingkat kelembaban 30 persen droplet akan tetap melayang dan tersuspensi di udara.

Berdasarkan hasil ini Sharp menganggap penting untuk memverifikasi jika tingkat kelembaban 60 persen memiliki efek terhadap pengurangan jumlah SARS-CoV-2 yang jatuh dan menempel pada permukaan hingga mampu mengurangi risiko penularan virus di udara melalui tetesan droplet.

Karena sebagian besar droplet penyebab infeksi penularan virus berasal dari air liur, Sharp mengukur dan membandingkan titer infeksi di area dengan tingkatan kelembaban 60 persen antara SARS-CoV-2 yang dicampur dengan media cair yang biasa digunakan untuk pengujian virus dan SARS-CoV-2 bercampur air liur.

Hasil penelitian menunjukkan titer virus menular pada media cair tersisa kurang dari 1 persen setelah dua jam, sedangkan pada media air liur sekitar 56 persen tetap utuh. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terbukti jika efektifitas teknologi Plasmacluster diverifikasi dapat mengurangi titer infeksi penularan termasuk varian baru lebih dari 99,4 persen.

Berdasarkan simulasi ini Prof. Hironori mengatakan, untuk mencegah infeksi virus penting untuk menjaga area ruangan pada tingkat kelembaban relatif sekitar 60 persen dengan humidifikasi sehingga mampu mencegah mukosa saluran pernapasan manusia mengering, mempertahankan fungsi imun, dan untuk menekan efektivitas penyebaran virus.

“Teknologi Plasmacluster secara signifikan bisa menonaktifkan SARS-CoV-2 yang terkandung dalam droplet yang melekat di berbagai permukaan dengan kondisi kelembaban udara 60 persen di mana fungsi perlindungan fisiologis dipertahankan. Hasil terkini juga menunjukkan kemampuan Ion Plasmacluster untuk menekan varian virus strain yang dapat diterapkan pada varian-varian baru yang berpotensi untuk muncul di masa mendatang,” jelasnya.