HousingEstate, Jakarta - Sektor properti kembali menunjukkan ketahanannya terhadap berbagai situasi ekonomi, termasuk akibat pandemi Covid-19. Di berbagai kota Australia yang mengalami lockdown harga propertinya justru terus meningkat. Hasil survei yang dilakukan oleh 40 ekonom dan ahli bersama-sama CoreLogic menyebutkan, kota seperti Sydney dan Melbourne yang mengalami lockdown  diproyeksikan akan mengalami kenaikan harga properti masing-masing sebesar 8 dan 9 persen dalam 12 bulan ke depan.

Head of Consumer Researcher Finder Graham Cooke mengatakan, hasil survei CoreLogic ini akan berdampak pada rata-rata pemilik produk properti di Sydney bisa mendapatkan imbal hasil dari pendapatan tahunan atas ekuitas rumah mereka tanpa perlu melakukan apapun dengan hasil yang lebih tinggi dari rata-rata penghasilan rumah tangga di Sydney.

“Berdasarkan data, rata-rata harga hunian di Sydney akan tumbuh menjadi 1.070.917 dollar Australia pada bulan Juli 2022 dengan pertumbuhan sebesar 76.619 dollar Australia. Sementara di Melbourne akan tumbuh menjadi 817.114 dollar Australia (tumbuh 64.014 dollar), Perth 42.498 dollar, dan Brisbane 47.342 dollar Australia,” ujar Cooke, dalam siaran pers yang diterbitkan Selasa (21/9).

Finder merupakan sebuah situs perbandingan yang beroperasi di 83 negara dengan 9,7 juta pengunjung setiap bulannya. Finder juga telah menjadi situs perbandingan yang paling banyak dikunjungi di Australia. Berdasarkan data ini Cooke menyebut, kebijakan lockdown tidak memiliki banyak pengaruh khususnya unutk periode 12 bulan ke depan pada harga properti yang tetap akan mengalami kenaikan.

“Di sisi lain, pencabutan kebicakan lockdown ini justru memberikan efek percepatan terhadap potensi kenaikan itu. Kami melihat efek saat sektor pinjaman melandai karena dampak lockdown dan langsung lepas landas saat lockdown dicabut dan itu mempercepat kenaikan harga properti,” imbuhnya.

Bukan hanya Sydney, Melbourne, Perth, maupun Brisbane yang mengalami kenaikan karena kota-kota besar lainnya juga mengalami hal yang sama. Di Canberra dan Adelaide memiliki potensi kenaikan mencapai 7 persen sementara di Hobart dan Darwin mencapai 6 persen.

Menanggapi hal ini, Sales and Marketing Director Crown Group Indonesia  Tyas Sudaryomo mengatakan, hal ini sangat berdampak positif terhadap permintaan akan produk hunian khususnya apartemen untuk pasar dari Indonesia. Crown Group merupakan pengembang Australia yang didirikan oleh pengusaha Indonesia Iwann Sunito.

“Dampak yang ditimbulkan terlihat dari jumlah inquiries dari pasar Indonesia yang relatif stabil dengan rata-rata mencapai 100 inquiries setiap bulannya yang kami dapatkan melalui saluran pemasaran online. Hal lain yang juga menarik, ada pergeseran tipe pembeli dari pasar Indonesia yang saat ini didominasi oleh owner occupiers dalam tiga bulan terakhir,” katanya.

Gambaran lebih jelasnya seperti ini, pada semester pertama tahun 2021 qualifield leads yang didapatkan Crown Group banyak yang tertarik dengan proyek off the plan seperti ArtIs di Melbourne dan Mastery by Crown Group di Sydney. Sementara pada bulan Juni-September 2021 didominasi oleh owner occupiers yang lebih banyak tertarik dengan proyek siap huni seperti Waterfall by Crown Group di kota Sydney. Peningkatan inquiries juga terjadi untuk proyek The Grand Residences tahap satu yang diperkirakan akan rampung pada bulan Oktober 2021.

“Kami melihat hal ini terjadi karena meskipun Australia sedang mengalami lockdown namun institusi-institusi pendidikan tinggi di Australia sudah bersiap untuk buka kembali sehingga banyak pembeli yang membutuhkan hunian yang siap huni. Suku bunga pinjaman KPA di Australia juga menjadi salah satu daya tarik bagi pembeli dari Indonesia yaitu berkisar 3,5-3,9 persen per tahun untuk floating rate,” jelas Tyas.