HousingEstate, Jakarta - Community living (co-living) adalah konsep hunian rental bersama yang makin nge-tren di kota besar. Pertama, karena bisa menjadi alternatif hunian kaum muda urban yang belum mampu membeli rumah di lokasi yang mudah diakses dari pusat-pusat kegiatan. Kedua, karena bisa mengakomodasi gaya hidup kaum muda saat ini yang konon suka berkolaborasi dan berbagi dalam komunitas.

Co-living menyediakan unit-unit tempat tinggal seperti kos-kosan dalam satu bangunan besar, yang didesain lebih rapi, bergaya, tertata, dan nyaman berikut furniturnya, dilengkapi fasilitas bersama seperti koneksi internet, ruang kerja/belajar, living room/ruang santai, dapur, dan lain-lain. Setiap penyewa kamar akan menjadi bagian dari komunitas hunian melalui pertemuan di fasilitas bersama dan kegiatan bersama yang diadakan pengelola coliving secara berkala.

Di Indonesia sudah mulai banyak perusahaan pengelola co-living, seperti Panorama, Rukita. Co-Hive, Cove, dan Roam. Umumnya coliving masih terkonsentrasi di Jakarta dan beberapa wilayah di sekitarnya seperti Tangerang Selatan dan Tangerang, kecuali Roam yang sudah sejak 2015 dibuka di Bali. Lokasinya di area yang mudah dijangkau dari pusat-pusat bisnis atau kampus universitas mahal.

Indonesia dinilai sebagai pasar coliving yang prospektif karena populasi mudanya yang besar dan sudah akrab dengan budaya kos-kosan. Bedanya, kos-kosan dikelola secara tradisional oleh pemilik rumah kos dan tidak menciptakan sebuah komunitas. Desain kamar plus perabot dan fasilitas bersamanya (kalau ada) juga ditawarkan apa adanya. Karena prospek itu, Juni 2020 pengelola coliving Cove asal Singapura masuk ke Indonesia, menyasar profesional muda dan mahasiswa dari kalangan menengah atas.

Tidak sampai setahun, coliving milik Cove sudah ada di sejumlah lokasi di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Tangerang, mencakup lebih dari 600 kamar. Tingkat huniannya juga terus meningkat. “Sepanjang masa PPKM Jawa-Bali Agustus lalu, pesanan meningkat 60 persen dan okupansi 10 persen. Bulan ini (September) okupansi coliving kami tercatat 85 persen,” kata Rizky Kusumo, Country Director of Investment Cove, dalam konferensi pers online dengan sejumlah media, Selasa (28/9/2021).

Turut hadir dalam acara itu Adriana, salah satu landlord (pemilik properti) yang bermitra dengan Cove melalui Cove Pejaten, Jakarta Selatan. Coliving yang dikelola perusahaan seperti Cove umumnya memang hasil kerjasama dengan landlord, dengan sistem revenue sharing atau profit sharing. Cove menargetkan sampai akhir 2021 bisa mengelola hingga 1.200 kamar di Jakarta dan sekitarnya, dan menjadi 1.800 kamar sampai akhir 2022.

Luas kamarnya bervariasi antara 12 – 24 m2 dengan tarif sewa antara Rp2,8 juta – Rp8 juta/kamar/bulan tergantung lokasi, luasan, dan fasilitas yang disediakan. Saat ini pangsa pasar Cove di bisnis coliving di Indonesia disebutnya mencapai 20 persen. “Target kita menjadi nomor satu di pasar Indonesia dan Asia Tenggara,” ujarnya. Saat ini Cove menawarkan beberapa promo untuk memikat calon penyewa pindah ke co-living yang dikelolanya