HousingEstate, Jakarta - Rumah adalah pengeluaran pribadi terbesar seseorang selama hidup. Rumah juga investasi sekaligus legasi dan gengsi. Sebab itu harus jadi prioritas dan wajar perlu upaya ekstra untuk mendapatkannya. Orang harus melihat sekian banyak rumah, memilih dan mengerucutkannya jadi beberapa sesuai kriteria, sebelum membeli salah satunya. Karena menjadi pengeluaran terbesar dan perlu usaha ekstra, membeli rumah harus direncanakan dengan seksama termasuk menabung uang mukanya.

Gaya hidup sering jadi kendala kita disiplin menabung. Kita jadi sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah segala sesuatu yang bila tidak terpenuhi bisa mengganggu kelangsungan hidup. Sedangkan keinginan adalah hasrat yang jika tak terpenuhi tidak akan merusak hidup kita. Gadget mungkin sudah jadi kebutuhan orang saat ini, selain pangan, sandang, kesehatan, pendidikan, dan tempat tinggal. Tapi, gadget yang harus selalu nge-tren, dan kongkow atau traveling ke tempat-tempat favorit adalah keinginan, bukan kebutuhan.

Kalau hasrat lebih didahulukan, kita tidak akan pernah bisa menabung. Bila tidak disiplin menabung, punya rumah hanya tinggal mimpi. Untuk itu strategi menabung perlu diubah. Kalau biasanya kita menabung sisa pendapatan setiap bulan, kini dibalik. Menabung dulu, misalnya 10–20  persen dari penghasilan, baru menggunakan sisanya untuk pengeluaran bulanan. Agar disiplin melakukannya, produk tabungan rumah atau tabungan berjangka yang ditawarkan bank bisa jadi solusi.

Dengan produk itu, sekian persen dari gaji per bulan langsung didebit ke tabungan. Jadi, depe rumah pun cepat tersedia. Di antara bank yang menyediakan produk itu adalah Bank Permata, Bank Artha Graha, HSBC, Hana Bank, dan Bank BTN. Dengan produk itu, nasabah mendapat imbalan bunga lebih tinggi dan lebih mudah mendapatkan KPR dari bank yang bersangkutan.

Katakanlah untuk rumah seharga Rp500 juta, depe berikut biaya KPR-nya Rp75–100 juta (15-20%). Bila rumah akan dibeli tiga tahun kemudian, dengan asumsi depe 15 persen dan kenaikan harganya rata-rata 10 persen/tahun, kita perlu menabung sejak sekarang minimal Rp2,7 juta/bulan. Menurut Anton Sitorus, Kepala Riset Savills Indonesia, salah satu perusahaan konsultan properti asing di Indonesia, saat ini timing yang tepat membeli rumah karena pasar masih lesu, developer dan bank ramai menawarkan insentif, dan perumahan favorit banyak melansir hunian kompak yang harganya lebih terjangkau.

“Nanti kalau pasar mulai pulih, harga rumah pasti melesat dan rumah-rumah kecil itu tidak ditawarkan lagi,” katanya. Ia menambahkan, harga rumah di perkotaan selalu meningkat lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan konsumen. Kalau tidak disiplin menabung sejak dini, anda akan makin sulit punya rumah. Seperti dikatakan artis Daniel Mananta dalam sebuah acara beberapa waktu lalu, tabungan yang ditawarkan bank-bank itu merupakan solusi menarik, karena kebanyakan orang memang sukar self discipline. “Dengan tabungan seperti itu, bank jadi semacam personal trainer yang mendisiplinkan kita menabung,” kata pria yang rajin berolah raga ini.