HousingEstate, Jakarta - Jika sekarang dinding rumah dibangun dari susunan bata yang diplaster, diaci, kemudian di-finishing cat, dengan sentuhan teknologi modern ke depan rumah bisa dibangun dengan tekonologi beton cetak tiga dimensi atau 3D Concrete Printing.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bekerja sama dengan perusahaan BUMN PT PP (Persero), Tbk. dan perusahaan rintisan Autoconz  sukses melakukan uji coba beton cetak 3D Concrete Printing.

Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, inovasi teknologi beton cetak 3D ini merupakan bukti nyata kolaborasi Kementerian PUPR dengan perusahaan BUMN dan start up yang digawangi anak-anak muda Indonesia untuk aplikasi teknologi membangun rumah dengan sistem print.

“Inovasi ini  sejalan dengan roadmap Making Indonesia 4.0 yang terus didorong pemerintah. Ini juga menjadi momentum penting yang memberikan arah dan fokus pengembangan baru di sektor perumahan dan bisa mendorong kekuatan kita di mata dunia khususnya di bidang konstruksi dan infrastruktur,” ujarnya dalam keterangan yang diterbitkan Senin (6/12).

Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR Diana Kusumastuti menjelaskan, 3D Concrete Printing ini mengunakan metode additive manufacturing yang menghasilkann cetakan obyek tiga dimensi dari material mortar. Proses pencetakannya dilakukan secara layer by layer hingga bangunan terbentuk secara utuh.

“Tentu secara metode masih akan terus mengalami perkembangan tapi dengan metode terbaru ini  akan mengubah ekosistem  dunia konstruksi dan bangunan. Semuanya bisa dilakukan  lebih efisien dan efektif sehingga  bisa  menciptakan perumahan yang affordable bagi seluruh kalangan,” katanya.

Selain itu ada banyak keunggulan lain dari metode 3D Concrete Printing  untuk mencetak bangunan ini. Antara lain mengurangi limbah material, menghemat biaya, waktu, dan meningkatkan kualitas produk konstruksi. Sistem printing ini juga memungkinkan mengerjakan bangunan dengan desain yang kompleks.

Akan ada banyak solusi yang bisa dihasilkan dengan metode 3D Concrete Printing ini. Misalnya pembangunan kembali maupun rehabilitasi untuk kawasan-kawasan yang terkena bencana. Begitu juga untuk mendukung pembangunan berbagai fasilitas seperti prasarana pendidikan sekolah hingga untuk mendorong pemenuhan backlog perumahan dengan menghadirkan 3D printed house.

“Teknologi 3D Concrete Printing ini akan sangat membantu kita untuk  membangun dengan lebih cepat, akurat, dan presisi sebagaimana gambar rancangan kerja yang ingin diwujudkan. Harapannya tekbologi baru ini bisa terus dikembangkan untuk pembangunan program perumahan, sekolah, dan lainnya hingga dimasukkan ke dalam sistem e-katalog Kementerian PUPR sehingga proses lelang juga tidak membutuhkan waktu yang lama,” beber Diana.