HousingEstate, Jakarta - Berbagai pihak terus menggodok skema pembiayaan untuk kalangan pekerja mandiri (informal) yang potensinya sangat besar di Indonesia. Menurut Deputi Komisioner Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) Eko Ariantoro, menyalurkan pembiayaan perumahan kepada segmen pekerja informal memang tidak mudah namun BP Tapera tengah menyiapkan skema pembiayaan untuk segmen ini.

“BP Tapera optimistis akan bisa menyalurkan pembiayaan untuk kalangan pekerja informal pada semester kedua tahun ini dengan target awal yang menyasar sebanyak 150 ribu pekerja mandiri. Nantinya aka n ada tiga segmen pekerja yang dibidik yaitu pekerja informal berbasis digital, berbasis komunitas, dan pekerja yang memiliki agregator di perbankan,” katanya saat acara buka bersama kalangan media beberapa waktu lalu.

Pekerja informal berbasis digital merupakan anak-anak muda yang bekerja secara mandiri dengan mendirikan start up company. Kalangan ini bisa memiliki penghasilan yang besar namun tidak bankable karena tidak memiliki slip gaji. BP Tapera akan membuat mekanisme untuk segmen ini bisa lebih bankable sehingga memungkinkan masuk ke skema pembiayaan perbankan.

Kemudian pekerja yang berbasis komunitas, BP Tapera telah melakukan pembicaraan dengan beberapa pihak seperti organisasi keagamaan NU dan Muhammadiyah. Untuk konsep berbasis komunitas ini juga sudah ada pilot project-nya seperti perumahan yang dibangun untuk kalangan tukang cukur Garut yang tergabung di dalam koperasi, perumahan untuk guru, dan nantinya akan digalang dengan berbagai komunitas lainnya.

Sementara pekerja yang memiliki agregator di perbankan, untuk hal ini BP Tapera telah menginisiasi dengan Bank BRI yang memiliki pekerja sebanyak 500 ribu orang. Targetnya, 10 persen atau sebanyak 50 ribu dari pekerja Bank BRI ini bisa difasilitasi untuk pembiayaan perumahannnya. Nantinya konsep ini akan terus dilanjutkan dengan bank-bank BUMN lainnya.

“Kami menyasar pekerja informal yang memiliki agregator seperti ini jadi ada yang bisa menjamin. Permasalahan pekerja informal selama ini karena tidak punya ikatan kerja dan itu yang membuatnya tidak bankable. Supaya cicilan mereka bisa sustain harus ada yang bisa menjamin dan kami buat dengan agregator berbasis digital, berbasis komunitas, dan berbasis perbankan,” beber Eko.