HousingEstate, Jakarta - Bank Sentral Australia pada awal Mei 2022 telah menaikkan tingkat suku bunga yang memberikan dampak langsung pada sektor properti di negara tersebut. Menurut Iwan Sunito, Komisaris dan CEO Crown Group, salah satu perusahaan pengembang Australia, konsumen harus bersiap untuk menghadapi kenaikan harga apartemen secara progresif selama beberapa tahun ke depan.

Iwan yang juga pengusaha kelahiran Surabaya itu mengatakan, selain tingkat suku bunga, sektor properti khususnya unit apartemen di Australia akan mengalami persentase kenaikan harga hingga dua digit terkait keterbatasan bahan baku dan kekurangan tenaga kerja di sektor konstruksi pembangunan gedung.

“Situasi ini akan membuat kalangan investor kembali masuk ke pasar karena harga sewa yang meningkat untuk mengimbangi kenaikan suku bunga dan kendala lain. Ketersediaan unit apartemen off the plan dan yang sudah selesai dibangun juga semakin berkurang yang menandakan owners-occupiers dan investor sangat aktif di pasar saat ini,” katanya.

Karena itu sangat masuk akal bila konsumen bergegas membeli unit properti untuk menghindari kenaikan harga yang double digit tadi selain meningkatnya biaya konstruksi dan keterbatasan tenaga kerja. Lebih khusus lagi bagi investor luar negeri seperti China dan Indonesia yang ingin mendapatkan stok unit apartemen yang sudah terbangun.

Iwan menyebut, situasi saat ini justru menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pembelian karena pasar properti di Australia tidak pernah berhenti bergerak maju. Masyarakat Indonesia juga merupakan komunitas terbesar kedua bagi Crown Group dan banyak yang telah merasakan keuntungan berinvestasi melalui unit properti di Australia khususnya Kota Sydney.

Dengan melakukan pembelian saat ini konsumen bisa mengunci harga dan memungkinkan terus menabung untuk pembelian unit berikutnya di masa mendatang. Australia juga masih mengalami housing shortage, pertumbuhan jumlah penduduk rata-rata 1 persen dari total populasi yang mencapai 26 jutaan orang.

Data dari Treasury.gov.au, dengan tren pertambahan populasi saat ini Australia akan mencapai populasi 35,9 juta jiwa tahun 2050. Pertumbuhan penduduk selama setahun terakhir terjadi akibat faktor alami yang terkait dengan situasi pandemi Covid-19. Sementara itu jumlah migrasi dari luar negeri berkurang selama periode pandemi.

Biro Statistik Australia juga menyebut, orang Indonesia yang tinggal di Australia mencapai 68.570 orang atau 29,4 persen yang menjadikan orang Indonesia merupakan komunitas migran terbesar dibandingkan warga negara lainnya. Situasi-situasi ini yang membuat properti di Australia justru sangat menarik untuk dibeli orang asing.

“Pasokan hunian yang terbatas di Australia dan banyak konsumen yang tidak sanggup memiliki rumah tapak menjadikan unit apartemen pilihan yang lebih terjangkau. Situasi ini akan terus berlangsung setidaknya dua tahun ke depan di mana akan lebih banyak unit apartemen yang terjual dibandingkan rumah tapak,” beber Iwan.