HousingEstate, Jakarta - Kebanyakan aplikasi kredit calon debitur dari kalangan muda yang baru pertama kali mengajukan kredit rumah KPR ditolak bank. Rahayu Budiarti, mortgage banker dari sebuah bank swasta besar, menyatakan hal itu dalam sebuah wawancara dengan housingestate.id beberapa waktu silam. Penyebab utamanya, calon debitur (pengutang) tidak lolos skrining Sistem Informasi Debitur Bank Indonesia (SID BI) atau yang lebih dikenal dengan sebutan BI checking. SID merupakan sistem yang merekam riwayat kredit debitur di lembaga keuangan. Bila riwayat kredit sebelumnya jelek, misalnya pembayaran cicilannya bermasalah, calon debitur sangat sulit mendapatkan pembiayaan berikutnya dari lembaga keuangan. Umumnya kaum muda bermasalah dengan cicilan kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), atau kredit instan lainnya. “Kalau SID aja nggak lolos, bank tidak mungkin memproses aplikasi kreditnya,” katanya. Nah, kalau pengajuan KPR ditolak bank, apa yang harus kamu lakukan agar tetap bisa membeli rumah?

Kalau penyebabnya riwayat kredit di SID, tentu saja kamu harus membereskan dulu pelunasannya dengan lembaga keuangan yang memberikan kredit. Kalau sudah beres, biasanya setelah 3-4 bulan catatan kredit bermasalah itu akan dihapus dari SID. Setelah itu kamu pun bisa kembali mengajukan KPR. Bisa ke lembaga keuangan yang sama atau yang lain.

Kemampuan mencicil
Menurut konsultan keuangan Prita Ghozi, pembelian rumah sebaiknya menggunakan kredit bank, supaya tidak menganggu biaya hidup lainnya. Untuk itu pastikan dulu kemampuan mencicil kamu. Setelah itu, baru deh window shopping produk KPR yang paling sesuai dengan kemampuan mencicil itu. Di internet informasinya sangat banyak disertai simulasinya.
Yang harus kamu lihat pada produk KPR itu adalah tingkat bunga termasuk bunga promo, persyaratan depe atau uang muka, serta tenor atau periode kreditnya. “Jadi, tentukan dulu kemampuan finansial, baru window shopping dan pilih kredit rumah yang cocok,” ujarnya kepada housingestate.id.

Rahayu membenarkan, esensi persoalan kaum muda yang mau membeli rumah dengan KPR bukan SID, namun kemampuan yang tidak memadai. Itu terlihat dari saldo tabungannya yang minimal. “Penghasilan tiap bulan habis untuk konsumsi, karena aneka penawaran barang begitu mudah diakses melalui gadget. Orang pun lupa menyisihkan penghasilan untuk kebutuhan dasar seperti rumah,” katanya.
Ia menyebutkan, umumnya bank mematok besaran cicilan KPR maksimal 30 persen dari penghasilan bersih (take home pay) per bulan. Kalau penghasilan kamu Rp10 juta, tapi setelah dipotong cicilan kartu kredit dan lain-lain tinggal Rp7 juta, itu berarti kemampuan mencicil maksimal kamu tinggal Rp2,3 juta/bulan. Artinya, kamu hanya bisa membeli rumah seharga maksimal Rp250 juta dengan KPR 20 tahun, depe 15 persen, dan bunga rata-rata 12 persen per tahun.

Ajukan bersama pasangan
Jadi, agar permohonan KPR diterima, pastikan kamu mampu mencicilnya. Kalau dari simulasi di situs bank cicilan kredit masih lebih dari Rp2,3 juta, tambah depe, atau perpanjang periode (tenor) kredit, dan cari bank yang memberikan bunga lebih rendah.

Khusus tenor kredit, kamu hanya bisa memperpanjangnya bila usia memungkinkan. Misalnya, untuk calon debitur berusia 30 tahun, kebanyakan bank hanya mau memberikan tenor KPR maksimal 20 tahun walaupun ada juga yang mengizinkan 25 tahun. Sampai saat ini untuk karyawan, bank masih menghitung usia pensiun maksimal 55 tahun. Kalau cara tidak bisa, mau tak mau kamu harus mencari rumah yang harganya lebih rendah.

Solusi lain, ajukan KPR bersama pasangan kalau kamu sudah punya pasangan. Kemampuan mencicil pun dihitung bank dari take home pay kamu berdua (joint income) sehingga bisa jauh lebih besar. Bank juga lebih senang, karena pengajuan KPR secara joint income cenederung membuat debitur lebih disiplin mencicil kredit.
Untuk makin meyakinkan bank terhadap kemampuan mencicil kamu, masukkan semua penghasilan ke tabungan. Jadi, lalu lintas penghasilan dan pengeluaran tiap bulan tergambar jelas, sehingga memudahkan bank melakukan analisis. Pastikan sisa penghasilan setiap bulan di tabungan selalu lebih dari 30 persen.

Kewajiban memasukkan semua penghasilan ke tabungan itu makin relevan, karena sekarang banyak anak muda menjadi freelancer atau lebih sulit menjadi karyawan tetap. Makin panjang riwayat lalu lintas keuangan di rekening tabungan yang kamu sampaikan, makin baik. Lakukan pengajuan kredit setelah lebih dari dua tahun menerima penghasilan rutin dari pekerjaanmu.

DP dipotong
Bagaimana kalau dengan berbagai kiat itu permohonan KPR masih ditolak juga? Tidak ada pilihan, kami harus membeli rumah dengan cara bayar tunai atau tunai bertahap (cash installment) langsung ke rekening developer. Banyak developer yang menawarkannya. Hanya, tenornya jauh lebih pendek, rata-rata 36 bulan atau paling lama 60 bulan. Jadi, angsuran bulanannya jauh lebih besar.
Kalau angsurannya macet, developer akan memotong sebagian uang yang sudah kamu setorkan. “Kalau setelah mencicil atau melunasi depe konsumen mundur, uang (yang sudah disetorkan) kita kembalikan setelah dipotong biaya administrasi tiga persen serta PPN dan PPh yang totalnya 15 persen. Sedangkan uang booking-nya hangus. Mau bagaimana lagi? Konsumen baru bayar booking saja, pajaknya sudah harus kita bayar,” kata seorang developer perumahan besar di Bekasi kepada housingestate.id.

Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, setelah beberapa waktu berjalan dan penghasilan meningkat, kamu bisa mengalihkan cash installment itu menjadi KPR dari bank yang bekerja sama dengan developer atau mau member kredit. Baik bank maupun developer akan welcome. Sekali lagi, yang penting kemampuan mencicil kamu memenuhi syarat.