HousingEstate, Jakarta - Tahun lalu merupakan periode yang baik untuk sektor properti dengan tren peningkatan bisnis yang terus terjadi setelah sektor ini terus menunjukan penurunan akibat pandemi Covid-19. Peningkatan kinerja bisnis yang terjadi pada sektor properti tidak terlepas dari berbagai insentif yang dikeluarkan pemerintah untuk mendorong dan membangkitkan sektor ini di tengah kondisi yang tidak stabil.

Pemerintah juga telah menerapkan besaran tarif PPN dari 10 persen menjadi 11 persen termasuk untuk produk properti sejak bulan April lalu. Kebijakan ini tentunya akan memengaruhi berbagai aspek pada pasar khususnya daya beli masyarakat terlebih saat situasi ekonomi masih lamban dan masih dalam proses pemulihan.

Menurut Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia (CII), kenaikan PPN ditambah dengan beberapa kenaikan lainnya seperti tarif dasar listrik dan BBM secara bersamaan dalam periode waktu yang singkat tentunya akan berdampak langsung pada dunia usaha dan konsumsi masyarakat pada umumnya.

“Kenaikan PPN akan menjadi tantangan ekstra bagi sektor properti. Terdapat korelasi yang kuat antara pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) dan penyerapan properti, keputusan untuk membeli atau berinvestasi pada properti kemungkinan akan kembali tertunda dalam waktu dekat terkait kenaikan PPN ini,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Melemahnya daya beli dan lesunya momentum investasi di kalangan investor properti menjadi alasan lain penundaan masyarakat untuk membeli produk properti. Kalangan investor juga masih berharap ekspektasi atas potensi imbal hhasil properti yang menjadi pertimbangan utama saat membeli produk properti.

Selain kenaikan PPN juga masih ada faktor eksternal lain yang menjadi tantangan untuk pertumbuhan sektor properti yaitu inflasi yang melonjak. Jika inflasi naik kemungkinan besar suku bunga juga akan menyesuaikan sehingga akan menambah tekanan pada industri properti.

Secara umum, dampak di semua sektor baik perumahan, perkantoran, ritel, maupun industri, semua akan terlihat sama. Namun siklusnya agak berbeda untuk setiap sektor. Satu sektor mungkin telah melewati bagian terendah dalam siklus sementara yang lain masih membutuhkan waktu untuk pulih atau bangkit. Secara keseluruhan, bisnis properti adalah tentang siklus dengan sebagian besar sektor telah mencapai titik terendah dan diharapkan mencapai posisi yang lebih positif.

“Kami melihat posisi “jam” saat ini masih berada di angka enam, jadi walaupun mulai beranjak naik tapi masih membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama atau bertahap. Namun kami juga masih melihat hal yang positif khususnya untuk sektor residensial mengingat berbagai insentif saat ini yang masih terus berjalan,” beber Ferry.