HousingEstate, Jakarta - Pandemi Covid-19 telah memukul sektor bisnis dan perekonomian termasuk bisnis properti. Namun pandemi juga memunculkan segmen khusus untuk produk properti residensial yang sepertinya tidak terpengaruh situasi pandemi dengan kebutuhan besar yang banyak dicari oleh masyarakat.

Hal itu membuat kalangan pengembang banyak menawarkan produk residensial khususnya rumah tapak yang menjadi penopang kinerja bisnis mereka. Contoh township Grand Wisata di Cibitung, Bekasi, hasil pengembangan Sinar Mas Land (SML) dan Duta Putra Land, saat awal pandemic 2020 masih aktif berjualan dan membangun rumah tapak yang terjual.

“Selama pandemi hingga saat ini kami memasarkan dan proses membangun 11 klaster. Saat ini ada sekitar 800 unit rumah yang tengah dibangun dan ke depan akan banyak proses serah terima yang semuanya sesuai jadwal. Jadi sejak awal pandemi kami justru sangat sibuk dengan aktivitas pemasaran,” ujar Handoyo Lim, Marketing & Promotion Department Head Grand Wisata kepada housingestate.id, Kamis (2/6).

Klaster hunian yang dipasarkan seperti Cherry Ville 1-2, Garden House, Lemonade, O8, O2, O2+, Water Terrace, hingga Z Living rata-rata penjualannya sukses. Hal ini tidak terlepas dari berbagai inovasi produk, respon terhadap tren dan kebutuhan pasar, hingga berbagai skema maupun promo yang menarik.

Di saat pengembang lain terpuruk karena pandemi, Grand Wisata justru melihat peluang banyaknya kebutuhan akan hunian di masa pandemi sehingga setiap produk yang dihadirkan menonjolkan value yang cocok untuk sasaran konsumennya. Konsep rumahnya juga dirancang sesuai pasar mulai dari keluarga muda hingga keluarga mapan yang harus menampung banyak anggota keluarga.

Hal ini membuat rumah kompak yang saat ini banyak ditawarkan di Grand Wisata menghadirkan value lebih itu. Misalnya, rumah lebar 5 meter bisa dihadirkan dua carport yang saat ini menjadi kebutuhan karena pemberlakuan ganjil-genap sehingga setiap rumah membutuhkan carport untuk dua mobil.

Begitu juga dengan konsep hunian Z Living yang diarahkan untuk kalangan zelenial (generasi Z) atau anak muda di bawah milenial yang saat ini usianya mulai 15 tahun hingga awal 20-an tahun. Segmen ini disasar untuk para orang tua yang ingin membelikan rumah untuk anaknya generasi Z. Menengok 10 tahun ke belakang, harga rumah cenderung terus naik dan umumnya tidak bisa diikuti dengan peningkatan penghasilan. Konsep Z Living mengajak untuk mempersiapkan itu karena generasi Z ini pada saatnya juga harus memiliki rumah dan bila menunggu 10 tahun dari saat ini harganya akan semakin tidak terjangkau.

“Kami juga diuntungkan dengan adanya transisi yang membuat pasar lebih bergairah. Seiring makin lengkapnya fasilitas di Grand Wisata dan didukung dengan infrastruktur di sekitarannya yang semakin baik, pasar kami menjadi lebih luas. Kalau dulu market dari Bekasi mencapai 60 persen saat ini tinggal 40 persen karena makin banyak market yang dari luar Bekasi. Banyak yang membeli dengan program depe 0 persen yang kami berikan dan mayoritasnya menggunakan KPR yang menandakan pembeli kami dari kalangan end user,” ujar Handoyo.