HousingEstate, Jakarta - Setiap kepala daerah cenderung ingin meninggalkan warisan yang diharapkan akan dikenang warganya. Untuk bidang ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta kita bisa melihat legacy dari para gubernurnya seperti Sutiyoso dengan Taman Menteng (eks Stadion Menteng) Jakarta Pusat; Fauzi Bowo, Taman Cattleya (eks TPS) Jakarta Barat, Taman Ayodya (refungsi pasar kembang menjadi situ) Jakarta Selatan; Joko Widodo, Taman (refungsi kampung kumuh) Waduk Pluit Jakarta Utara; Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Taman Kalijodo (eks daerah hitam) Jakarta Utara; Anies Baswedan, Taman Tebet (revitalisasi) Tebet Eco Park (TEP) Jakarta Selatan.

RTH Jakarta sendiri memiliki fungsi yang sangat besar. Dari sisi kuantitas untuk kebutuhan ekologis seperti daerah resapan air, paru-paru kota, mitigasi bencana, adaptasi iklim, hingga fungsi sosial untuk interaksi masyarakat. Kualitas untuk estetis keindahan kota hingga ekonomi terkait nilai lahannya yang terus naik.

Nirwono Joga, pengamat properti hijau dan Ketua Tim Penilai HousingEstate Green Property Awards

Nirwono Joga, pengamat properti hijau dan Ketua Tim Penilai HousingEstate Green Property Awards

RTH Jakarta juga berfungsi untuk edukasi terkait habitat satwa maupun flora, evakuasi untuk menampung saat ada bencana, dan sebagainya. Dengan banyaknya masalah seperti banjir kiriman, banjir lokal, rob yang makin sering terjadi, macet yang menyebabkan polusi, peran
RTH semakin penting dan dibutuhkan di Jakarta.

Saat ini luas RTH Jakarta baru mencapai 9,98 persen (Data Dinas Pertamanan dan Kehutanan DKI Jakarta, 2020) dari aturan UU 26 Tahun 2007 tentahg Penataan Ruang RTRW dan RDTR DKI Jakarta 2030 minimal 30 persen. Karena itu fokus RTH di Jakarta seharusnya pada mitigasi bencana dan perubahan iklim untuk mengendalikan banjir, rob, menyejukan kota (urban heat island) dan untuk itu Pemprov DKI Jakarta harus terus memperluas RTH-nya.

Untuk jangka pendek, RTH di Jakarta bisa didorong untuk menjadi 14-16 persen dengan memaksimalkan jalur hijau seperti tepian atau medan jalan, bantaran 13 sungai, 13 koridor (bantaran) rel kereta api, kolong jalan maupun jembatan layang-MRT-LRT, hingga bawah SUTET.

Memperbanyak taman di 109 situ, danau, embung, waduk Jakarta ditambah 20 waduk baru yang akan dibangun hingga 2030. Kita bisa belajar dari contoh sukses Taman Waduk Pluit, restorasi kawasan pesisir pantai utara, reforestasi hutan pantai (mangrove), hingga pembelian lahan baru.

Yang juga harus menjadi perhatian yaitu saat ini 50 persen taman maupun RTH kita kurang terpelihara dan lokasi semakin di pinggir kota akan semakin kurang terawatt. Keterbatasan anggaran pemeliharaan RTH yang belum menjadi prioritas sehingga dibutuhkan politik anggaran untuk prioritas pemeliharaan, beautifikasi, maupun revitalisasi RTH.

Disarikan dari wawancara wartawan housingestate.id Yudiasis Iskandar