HousingEstate, Jakarta - Penyaluran kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) pada triwulan II-2022 secara tahunan tercatat merosot. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Primer versi Bank Indonesia seperti dikutip www.bi.go.id, menyebutkan, pertumbuhan penyaluran KPR dan KPA pada triwulan II-2022 tercatat 7,07% secara tahunan (yoy), dibanding 10,61% (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Penyaluran KPR dan KPA secara triwulanan (qtq) bahkan tumbuh negatif sebesar –0,62% (qtq), dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 2,20%. Hal serupa terjadi pada penyaluran KPR bersubsidi dengan skim Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang pada triwulan II-2022 yang tercatat Rp5,98 triliun, atau tumbuh –17,29% secara tahunan dibanding 122,01% pada triwulan sebelumnya.

KPR dan KPA masih menjadi andalan sebagian besar konsumen dalam membeli hunian, dengan 74,97% dari total pembiayaan pemilikan, diikuti oleh tunai bertahap (16,61%) dan tunai keras (8,42%).

Sementara dari sisi developer, dana internal masih menjadi sumber pembiayaan utama pembangunan properti residensial primer oleh pengembang, mencapai 64,82% dari total kebutuhan modal pengembangan proyek.

Sumber dana internal perusahaan itu berasal dari laba ditahan (48,19%) dan modal disetor (46,96%). Sumber pembiayaan lain pengembangan proyek adalah pinjaman perbankan dan pembayaran dari konsumen dengan proporsi masing-masing sebesar 21,29% dan 9,07%.