HousingEstate, Jakarta - Perumahan The Golden Stone @Serpong di Kelurahan Bojong Nangka Legok, Tangerang, Banten, dikembangkan secara kerja sama operasi (KSO) antara PT Mentari Abadi Sentosa (MAS) selaku pemilik lahan dengan PT Griya Natura Alam (GNA Group) selaku perusahaan developer.

Dalam perjalanannya, perumahan seluas 24 ha ini saling bersengketa antara MAS dan GNA Group. Pemberitaan sebelumnya, Direktur Utama GNA Group Gregorius Gun Ho mengatakan, hingga saat ini pengembangan The Golden Stone masih berjalan dengan baik dan sebagai pengembang GNA telah melaksanakan seluruh progres kerja sama dengan pembayaran kepada MAS juga dilakukan dengan tepat waktu.

“Menurut kami gugatan yang diajukan MAS tidak berisikan materi maupun hal-hal yang sesuai dengan perjanjian KSO yang semestinya bisa diselesaikan dengan kesepakatan bersama ataupun addendum perjanjian KSO antara kedua belah pihak. Jadi kami masih berpatokan pada perjanjian KSO kedua belah pihak,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Sebagai hak jawab, pihak MAS yang diwakili Direktur MAS Ariyanto Jaya Kusuma, GNA selaku developer menjalankan aktivitas bisnis yang tertutup yang semestinya dilakukan bersama sebagaimana perjanjian KSO. Konsep pembagian dalam kerja sama ini juga profit sharing yang artinya saat ada profit baru dibagi diantara kedua belah pihak sesuai porsinya.

“Dalam perjalanannya GNA, dalam hal ini direktur utamanya, banyak menjalankan aktivitas yang tidak transparan dan saat dimintakan kejelasan selalu mengelak. Mulai dari pendekatan persuasif hingga somasi kami tidak digubris sehingga untuk mendapatkan kejelasan itu menurut kami langkah yang paling tepat harus ditentukan oleh majelis hakim melalui pengadilan,” ujarnya kepada kalangan media, Rabu (19/10).

Selama ini GNA melakukan beberapa kali pengambilan dana dengan total senilai lebih dari Rp22 miliar yang dilakukan selama tahun 2022 ini. MAS dan GNA sendiri menjalin kerja sama ini sejak tahun 2016 dengan janji pembayaran bisa dilakukan tiga tahun tapi pada kenyataannya pembayaran untuk klaster pertama seluas 4,3 ha dilakukan dalam lima tahun empat bulan.

Untuk pengembangan klaster kedua seluas 1,9 ha dan sudah mulai berjualan hingga 70 persen dari 178 unit rumah, MAS sama sekali belum mendapatkan pembayaran apapun. Dari penjualan yang mencapai 260 unit rumah, semestinya mudah untuk melakukan breakdown berapa total penerimaan, biaya-biaya, hingga pajak-pajak untuk melihat berapa profit perusahaan untuk dibagi.

“Permintaan kami sangat sederhana, kita lakukan audit dengan mengambil konsultan-konsultan ahli sesuai bidanganya. Tapi untuk ini saja kami tidak ditanggapi, akhirnya jalan akhir harus melalui pengadilan supaya semuanya terang berdasarkan fakta-fakta yang ada. Kami hanya ingin semua sudah menjalankan kewajibannya begitu juga hak-haknya sehingga kita memutus kerja sama ini juga dengan baik. Selama proses pengadilan kami selalu hadir sementara pihak GNA hanya diwakili pengacara,” pungkas Ariyanto.