Senin, Januari 19, 2026
HomeNewsEkonomiSeperti Biasa, Pasca Ramadan dan Idul Fitri Inflasi Menurun ​

Seperti Biasa, Pasca Ramadan dan Idul Fitri Inflasi Menurun ​

Bank Indonesia (BI) mencatat, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2025 masih terjaga di kisaran sasaran 2,5±1%. Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan Jum’at (2/5/2025), IHK April 2025 mencatat inflasi 1,17 persen secara bulanan (mtm), menurun dibanding Maret sebesar 1,65 persen (mtm). Sebelumnya pada Januari dan Februari 2025 IHK mencatat deflasi (minus) 0,76 dan 0,48 persen.

Inflasi adalah kondisi di mana harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami peningkatan dibanding periode sebelumnya, yang dicerminkan melalui kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK). Sedangkan deflasi sebaliknya, harga sekumpulan barang dan jasa yang disurvei mengalami penurunan IHK.

Menurut BPS, penurunan inflasi pada April 2025 itu merupakan kelaziman pasca hari besar keagamaan, dalam hal ini Ramadan dan Idul Fitri pada Maret 2025, yang ditandai dengan penurunan harga barang dan jasa.

Dengan inflasi bulanan sebesar 1,17 persen itu, inflasi tahun kalender (ytd) atau April 2025 dibanding Desember 2024 menjadi 1,56 persen. Sementara secara tahunan (yoy) atau April 2025 dibanding April 2024, IHK mengalami inflasi 1,95 persen (yoy), jauh lebih rendah dibanding inflasi April 2024 sebesar 3 persen (yoy).

Baca juga: Terendah Sepanjang Sejarah, Inflasi 2024 Hanya 1,57 Persen

BI mengklaim inflasi yang tetap terjaga di kisaran sasaran itu, merupakan hasil konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah (pusat dan daerah). Ke depan, tahun 2025 dan 2026, BI meyakini inflasi akan tetap terkendali di kisaran sasaran 2,5±1%.

Penurunan inflasi April 2025 disumbang kelompok volatile food (bahan makanan bergejolak) yang mengalami deflasi sebesar 0,04 persen secara bulanan (mtm), merosot dibanding Maret 2025 yang mengalami inflasi 1,96 persen (mtm).

Deflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras, karena pasokan cabai rawit yang meningkat dan biaya input pakan ternak yang menurun.

Secara tahunan kelompok volatile food mengalami inflasi 0,64 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi Maret 2025 sebesar 0,37 persen (yoy).

Sedangkan kelompok administered prices (barang yang harganya diatur pemerintah seperti listrik dan BBM), mengalami inflasi pada April 2025 sebesar 5,21 persen secara bulanan (mtm). Lebih rendah dari inflasi Maret 2025 sebesar 6,53 persen (mtm).

Baca juga: Pemerintah dan BI Duduk Bareng, Pastikan Inflasi Tahun Ini Sesuai Target

Inflasi kelompok administered prices terutama disumbang oleh komoditas tarif listrik, seiring berakhirnya kebijakan diskon tarif listrik 50 persen kepada pelanggan rumah tangga dengan daya terpasang sampai 2.200 VA.

Secara tahunan (yoy) kelompok administered prices mencatat inflasi 1,25 persen (yoy), meningkat dibanding Maret 2025 yang mengalami deflasi sebesar 3,16 persen (yoy).

Sementara inflasi inti meningkat sebesar 0,31 persen (mtm) dibanding 0,24 persen pada Maret 2025. Terutama dipengaruhi oleh peningkatan harga beberapa komoditas global terutama emas, dan mobil. Secara tahunan (yoy) inflasi inti April 2025 tercatat 2,50 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding Maret 2025 sebesar 2,48 persen (yoy).

Berita Terkait

Ekonomi

Penjualan Emas Bank BSI Tembus 2,18 Ton

Bank BSI merupakan bank emas pertama di Indonesia dan...

Tiga Hari Pekan Ini Modal Asing Cabut Rp7,71 Triliun, Rupiah Kian Amblas

Setelah selama tiga pekan sebelumnya terus mengalir masuk (beli...

Dari Pantai, Goa, Hingga Waterfall, Ada Semua di Maluku Tenggara

Ada banyak panorama alam yang bisa dinikmati di “seribu...

Berita Terkini