Sangat Tinggi Kenaikan Harga pada Desember 2025
Kenaikan harga barang dan jasa pada akhir tahun 2025 sangat tinggi. Tercermin dari angka inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2025 sebesar 2,92 persen secara tahunan (yoy), dibanding 1,57 persen (yoy) pada Desember 2024.
Bank Indonesia (BI) dalam keterangannya, Senin (5/1/2026), menyatakan, inflasi Desember 2025 itu terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Namun, angka inflasi Desember 2025 yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut, hampir dua kali inflasi 2024 yang 1,57 persen (yoy).
Bahkan, secara bulanan (mtm) kenaikan harga itu jauh lebih tinggi. Inflasi IHK Desember 2025 tercatat sebesar 0,64 persen (mtm) dibanding 0,17 persen (mtm) pada November 2025.
Kenaikan pesat inflasi bulanan itu, terutama disumbang oleh kelompok volatile food (bahan pangan bergejolak), yang melesat menjadi sebesar 2,74 persen (mtm), dari November 2025 yang hanya 0,02 persen (mtm).
Terutama disumbang oleh kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah, dipengaruhi dampak gangguan cuaca, tingginya harga input produksi ternak, serta peningkatan permintaan selama Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Secara tahunan (yoy) inflasi volatile food juga naik tajam, mencapai 6,21 persen (yoy) pada Desember 2025 dibanding 0,12 persen (yoy) pada Desember 2024. Tapi, BI menyebut inflasi volatle food tahunan pada Desember 2025 juga cukup terkendali.
Baca juga: Inflasi 2025 Hampir Dua Kali Inflasi 2024
Sementara inflasi administered prices (harga barang dan jasa yang diatur pemerintah seperti BBM, listrik, dan rokok) tercatat sebesar 0,37 persen secara bulanan (mtm), tidak terlalu banyak meningkat dari inflasi November 2025 sebesar 0,24 persen (mtm).
Terutama disumbang kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota, seiring kenaikan harga BBM nonsubsidi dan peningkatan mobilitas masyarakat selama libur Nataru.
Namun, secara tahunan (yoy), inflasi administered price juga meningkat cukup tinggi, mencapai 1,93 persen (yoy) pada Desember 2025 dibanding 0,56 persen (yoy) pada Desember 2024.
Yang cukup stabil hanya inflasi inti, inflasi yang tidak memperhitungkan inflasi volatile food dan administered price. Hanya sebesar 0,20 persen (mtm) pada Desember 2025, dibanding November 2025 sebesar 0,17 persen (mtm). Terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan dan minyak goreng.
Secara tahunan (yoy), inflasi inti juga relatif stabil sebesar 2,38 persen (yoy), dibanding 2,26 persen (yoy) pada Desember 2024.
Hal itu diklaim BI seiring konsistensi kebijakan suku bunga dalam menjangkar ekspektasi inflasi dalam sasaran, kapasitas ekonomi yang masih besar, imported inflation yang terkendali sejalan dengan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI, serta dampak positif dari digitalisasi.