Survei BI: Semester Satu Dunia Usaha Masih Akan Wait and See Berinvestasi
Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia yang dirilis Senin (19/1/2026) mengungkapkan, pada triwulan IV 2025 realisasi investasi terindikasi meningkat signifikan dibanding triwulan III. Tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Investasi sebesar 9,54 persen, dibanding 5,67 persen pada triwulan III.
Kegiatan investasi seluruh lapangan usaha terindikasi tumbuh positif, dengan SBT tertinggi pada sektor pertambangan dan penggalian (SBT 2,51 persen) dalam bentuk pembangunan dan perbaikan fasilitas pengolahan hasil tambang.
Sementara investasi di industri pengolahan (SBT 1,31 persen), perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor (SBT 0,75 persen), serta informasi dan komunikasi (SBT 0,6 persen), berupa pembelian/perbaikan mesin dan alat berat, serta pembangunan/perbaikan gedung, pabrik, toko, serta jaringan fiber optic backbone dan last-mile.
Responden memperkirakan, investasi pada triwulan I 2026 tetap tumbuh dengan SBT 6,88 persen atau kembali merosot dibanding triwulan IV 2025.
Investasi triwulan I 2026 terutama berasal dari industri pengolahan (SBT 0,98 persen), perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan motor (SBT 0,9 persen), serta pertanian, kehutanan dan perikanan (SBT 0,79 persen).
Bentuk investasi berupa pembelian atau perbaikan mesin dan alat berat, pembangunan dan perbaikan gedung, pabrik, toko, serta perluasan lahan pertanian.
Baca juga: Pertumbuhan Realisasi Investasi Terus Merosot
Menurut BI, secara semesteran hasil SKDU menunjukkan peningkatan jumlah pelaku usaha yang melakukan investasi pada semester II 2025, dengan persentase 24,83 persen dibanding 22,25 persen pada semester I 2025, kendati masih lebih rendah dibanding 25,28 persen pada semester II 2024.
Dari sisi nilai investasi, hasil SKDU mengindikasikan peningkatan dengan SB (Saldo Bersih) nilai investasi 65,29 persen pada semester II 2025, jauh lebih tinggi dibanding 48,9 persen pada semester I 2025, namun masih sedikit lebih rendah dibanding 66,61 persen pada semester II 2024.
Realisasi investasi semester II 2025 berupa mesin (29,54 persen), bangunan/pabrik (24,14 persen), alat angkut/transportasi (16,78 persen), tanah (9,81 persen), dan lainnya (19,73 persen).
“Sebagian besar responden menyatakan, investasi yang dilakukan perusahaan berupa investasi baru (47 persen), serta kombinasi investasi baru dan penggantian (33,61 persen), dan penggantian (19,39 persen),” tulis SKDU BI.
Baca juga: Di Luar Dugaan, Triwulan Dua Ekonomi Tumbuh 5,12 Persen. Ditopang Peningkatan Konsumsi dan Investasi
Kendati demikian, pada semester I 2026, persentase responden yang berencana melakukan investasi menurun menjadi 24,69 persen dibanding 24,83 persen pada semester II 2025.
Faktor-faktor penghambat rencana investasi itu adalah masalah perizinan (19,41 persen), suku bunga (13,14 persen), perpajakan (9,77 persen), regulasi (9,04 persen), infrastruktur (7,39 persen), ketenagakerjaan (5,48 persen), keamanan (4,88 persen), serta faktor lainnya (27,72 persen) antara lain sikap wait and see melihat kondisi ekonomi.