Pasar Properti 2026 Menguat!
Menurut konsultan properti Colliers Indonesia, sepanjang tahun 2025 lalu pasar properti terus menunjukkan situasi penguatan aktivitas bisnis khususnya di beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Kondisi ini terus bertahan di tengah iklim ekonomi dan investasi yang masih hati-hati.
Berdasarkan siaran pers yang diterima housingestate.id Kamis (22/01), Colliers juga menyebut kalangan pengembang dan penyewa belum melakukan ekspansi secara agresif namun mengadopsi strategi yang lebih cerdas dengan fokus pada efisiensi, fleksibilitas, serta pemilihan tempat yang lebih strategis.
Sektor perkantoran, ritel, dan perhotelan dilaporkan tetap stabil berkat pasokan yang terkendali. Sementara pasar industri dan residensial terus tumbuh mengikuti tren pariwisata, peningkatan aktivitas manufaktur, dan perkembangan kota. Colliers memperkirakan anggaran yang ketat, perubahan perilaku konsumen dan penyewa, serta ketidakpastian global masih akan mendorong pola belanja yang lebih konservatif.
Situasi tersebut membuat pasar properti terus menunjukkan arah yang lebih positif memasuki tahun 2026. Dengan pasokan yang terkendali dan permintaan yang berangsur pulih, properti terutama yang berlokasi strategis dan dikelola secara profesional akan mencatatkan permintaan lebih tinggi dan membuat kondisi pasar yang lebih seimbang.
Pasar perkantoran di Jakarta misalnya, sepanjang 2025 menunjukkan arah pemulihan yang semakin positif meski bertahap. Aktivitas sewa masih didominasi oleh perpanjangan kontrak namun mulai terlihat peningkatan minat relokasi dan ekspansi di semester kedua 2025. Perkembangan ini mencerminkan mulai membaiknya sentimen bisnis, perlahan kembalinya arus investasi, serta prospek pasar yang lebih optimistis di 2026.
Baca juga: Kawasan Industri Terus Melaju, Saat Properti Lain Masih Lesu
Untuk sektor apartemen di Jakarta, poyek yang selesai sepanjang tahun 2025 membuat yang tercatat hanya sekitar separuh dari total pasok tahun 2024. Jakarta Selatan masih menjadi kontributor utama pasok apartemen didukung permintaan yang cenderung stabil yang didorong adanya proyek-proyek yang masih dalam masa konstruksi dan ikut menopang stabilitas harga.
Hal ini juga menunjukkan preferensi pembeli yang lebih dipengaruhi oleh ketersediaan unit, kepastian penyelesaian, dan kredibilitas pengembang dibandingkan pergerakan harga semata. Ke depan, para pengembang diperkirakan lebih memanfaatkan perpanjangan insentif PPN DTP sehingga dapat menawarkan jadwal penyelesaian yang lebih jelas, transparansi yang lebih tinggi, dan strategi penetapan harga yang lebih terstruktur kepada calon pembeli guna menjaga momentum penjualan.
Sementara itu untuk sektor ritel di Jabodetabek menunjukkan pemulihan secara bertahap terutama didorong oleh mal-mal kelas atas. Mal-mal di kelas ini masih mampu menarik minat ekspansi peritel, tercermin dari pembukaan gerai berskala besar, pembaruan konsep toko, serta peluncuran produk baru. Sebaliknya, mal kelas menengah-bawah masih dalam tahap penyesuaian.
Pengelola masih fokus pada bauran penyewa dan penyempurnaan fasilitas. Pemulihan pasar ritel juga didukung oleh kategori makanan dan minuman yang tetap menjadi salah satu penopang utama permintaan ritel, walaupun di tengah sikap pengeluaran konsumen yang berhati-hati.