Opini: Pentingnya Profesi Penilai Properti
Oleh Ni Luh Asti Widyahari
Property Valuer & Advisor
Penilaian properti menjadi pilar penting dalam dinamika perekonomian kekinian baik bagi pelaku bisnis maupun masyarakat umum. Secara definisi, penilaian properti adalah proses pemberian estimasi dan pendapat atas nilai ekonomi suatu objek pada tanggal tertentu yang dilakukan berdasarkan standar penilaian Indonesia serta peraturan perundangan yang berlaku.
Seiring dengan disahkannya Undang-ndang No. 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, profesi Penilai kini secara resmi diakui sebagai profesi penunjang utama di berbagai sektor, mulai dari pasar modal hingga jasa pembiayaan.
Ada beberapa alasan pentingnya profesi penilai yang bahkan bisa menjadi fondasi untuk aktivitas bisnis. Salah satu hal yang penting yaitu pentingnya objektivitas dalam penilaian. Alasan utama mengapa penilaian harus dilakukan oleh pihak yang objektif adalah untuk menghindari bias yang dapat mengakibatkan hasil penilaian tidak akurat. Objektivitas berarti nilai sebuah properti ditentukan berdasarkan data dan bukan atas dasar perasaan, kepentingan pribadi, atau tekanan dari pihak luar.
Jika penilaian dilakukan secara subjektif, misalnya dalam kondisi jual-beli properti, jika hanya mengikuti keinginan penjual yang ingin harga tinggi atau pembeli yang ingin harga rendah, maka hasilnya akan merugikan salah satu pihak atau juga dapat menghambat proses transaksi.
Dengan hasil yang objektif, semua pihak dapat mengambil keputusan terkait jual-beli, sewa, atau jaminan utang dengan lebih tenang dan transparan.
Bagi masyarakat umum, jasa penilaian properti dilakukan sebegai kebutuhan untuk perlindungan aset. Sejalan dengan itu, penilaian properti membantu dalam menentukan harga jual atau beli yang wajar guna menghindari kerugian finansial.
Begitu juga saat pengajuan pinjaman atau kredit di mana bank memerlukan laporan penilaian untuk memastikan nilai agunan mencukupi. Keperluan pajak untuk memastikan perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang akurat, hingga pembagian warisan dan aset keluarga agar setiap pihak mendapatkan bagian yang adil sesuai dengan nilai pasar.
Maka dari itu seorang Penilai profesional memikul empat tanggung jawab utama dalam menjalankan tugasnya. Mulai dari integritas pribadi terkait memberikan layanan optimal sesuai kompetensi dan kode etik.
Terhadap pemberi tugas, Penilai harus menyusun laporan secara cermat tanpa terpengaruh instruksi yang dapat mengubah hasil penilaian menjadi tidak memihak. Terhadap sesama Penilai untuk menghindari persaingan tidak sehat sementara terhadap masyarakat dilarang melakukan kolusi kepada pihak tertentu untuk mendapatkan pekerjaan.
Klasifikasi bidang jasa penilai publik ini berdasarkan peraturan (PMK No. 56/PMK.01/2017), bidang jasa penilai publik diklasifikasikan menjadi empat yaitu, penilaian properti sederhana yang mencakup satu unit rumah tinggal, ruko, atau gudang tunggal dengan batasan luas tertentu.
Baca juga: Opini: 4 Faktor Yang Memengaruhi Nilai Properti
Penilaian properti mencakup tanah, bangunan, mesin, alat transportasi, hingga objek pertambangan dan perkebunan. Penilaian bisnis berfokus pada entitas bisnis, surat berharga, hak kekayaan intelektual, dan opini kewajaran sementara penilaian personal properti khusus pada mesin, peralatan pabrik, dan alat transportasi.
Menjadi seorang Penilai Publik memerlukan proses panjang yang melibatkan pendidikan, pengalaman, dan perizinan resmi dari Menteri Keuangan. Tahapannya dimulai dari Tenaga Penilai (lulus pendidikan awal), menjadi Penilai Bersertifikat (lulus ujian sertifikasi/USP yang diadakan oleh MAPPI), hingga akhirnya mendapatkan izin praktik sebagai Penilai Publik.
Beberapa syarat untuk mendapatkan izin Penilai Publik meliputi, memiliki pendidikan minimal Strata Satu (S1) atau setara. Lulus ujian sertifikasi dan pelatihan etik, memiliki pengalaman kerja ribuan jam di bidang penilaian (misalnya, minimal 1.000 jam kerja untuk klasifikasi properti atau bisnis).
Sebagai profesi yang krusial, Penilai Publik memastikan bahwa setiap nilai ekonomi yang dilaporkan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional dan independen sehingga menciptakan kepastian dalam setiap penggunaan laporan penilaian.
Baca juga: Opini: Suku Bunga Turun, Kok Sektor Properti Tetap Anyep?
Analogi untuk memahami jbjektivitas penilaian: bayangkan seorang Penilai Properti seperti seorang wasit dalam pertandingan sepak bola. Wasit tidak boleh memihak salah satu tim atau terpengaruh oleh sorakan penonton. Ia harus membuat keputusan berdasarkan aturan yang berlaku dan kejadian nyata di lapangan agar hasil pertandingan dianggap adil dan sah oleh semua orang.
Maka begitu pula Penilai, ia menggunakan data dan standar profesi agar nilai properti menjadi adil bagi pihak yang berkepentingan.