Melihat Tren Belanja dari Kacamata Mandiri Spending Index
Aktivitas belanja masyarakat mulai melambat khususnya pasca libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 lalu. Medio Januari 2026, Mandiri Spending Index (MSI) yang diterbitkan Bank Mandiri Kamis (29/01), berada pada level 372,5 yang terkontraksi 0,1 persen (week on week/WOW). Kondisi ini menandai belanja mulai masuk periode normalisasi.
Hal ini sejalan dengan berakhirnya periode libur Nataru yang mencapai puncaknya pada minggu pertama Januari di mana puncak MSI tercatat sebesar 372,8. Meskipun secara agregat belanja ternormalisasi, ada beberapa kelompok belanja yang masih melanjutkan akselerasi terutama kelompok esensial.
Belanja education melanjutkan tren akselerasi 19,5 persen (WOW) vs minggu sebelumnya 3,2 persen. Ini mengindikasikan pembayaran biaya pendidikan yang lebih awal sejalan dengan perilaku antisipatif masyarakat.
Tabungan meningkat pada kelompok bawah dan atas, melambat pada kelompok menengah. Per 17 Januari 2026, indeks tabungan kelompok bawah meningkat ke 73,9 (vs 72,4 pada Desember 2025) dan kelompok atas ke 93,5 (vs 92,0 di Desember 2025). Tabungan kelompok menengah turun ke level 100,5 (vs 101,2 pada Desember 2025) sejalan dengan magnitude belanja di periode libur Nataru yang tinggi.
Baca juga: Penghujung Tahun, Konsumen Kurangi Konsumsi, Perbanyak Tabungan
Peningkatan belanja diperkirakan mulai terjadi di minggu pertama Februari sejalan dengan persiapan menghadapi bulan Ramadan. Namun demikian, magnitude peningkatannya akan bergantung pada dinamika pendapatan masyarakat yang terutama dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas lapangan kerja terutama pada kelompok menengah-bawah. Sementara itu kelompok atas akan lebih bergantung pada tingkat optimisme terhadap kondisi ekonomi.
Pasar saham Wall Street ditutup menguat dengan Indeks Dow Jones naik sebesar 0,63 persen ke posisi 49.384,0 (+2,75 persen ytd) dan Indeks S&P 500 naik sebesar 0,55 persen ke posisi 6.913,4 (+0,99% ytd).
Sentimen positif datang dari kebijakan Presiden Amerika Donald Trump yang menarik ancaman tarif terhadap sekutu Eropa dan sejumlah data ekonomi terbaru yang turut mendorong sentimen positif pasar.
Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) menunjukkan belanja konsumen Amerika meningkat solid sepanjang November dan Oktober selain itu ekonomi Amerika tercatat tumbuh 4,4 persen pada kuartal ketiga 2025, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi.
Pasar saham Eropa ditutup menguat pada perdagangan kemarin, FTSE 100 naik sebesar 0,12 persen ke posisi 10.150,1 (+2,20 persen ytd) dan DAX Jerman naik sebesar 1,20 persen ke posisi 24.856,5 (+1,49% ytd). Pasar saham di Asia ditutup menguat di mana indeks Nikkei naik 1,73 persen ke posisi 53.688,9 (+6,65 persen ytd) dan indeks Hang Seng naik 0,17 persen ke posisi 26.630,0 (+3,90 persen ytd).
IHSG ditutup melemah turun 0,20 persen ke posisi 8.992,2 (+3,99 persen ytd). Penurunan tersebut dipicu oleh sektor energi yang turun 1,86 persen diikuti oleh sektor teknologi yang turun 1,70 persen.
Baca juga: Rohana dan Rojali Nggak Ngaruh. Peritel Asing Tetap Semangat Buka Gerai di Mal
Adapun indeks saham besar yang menekan IHSG ke zona negatif pada penutupan perdagangan dari Petrosea (-12,9 persen ke posisi 10.775), Bumi Resources (-9,8 persen ke posisi 348), dan Barito Pacific (-3,9 persen ke posisi 2,750).
Sebagai tambahan informasi, posisi asing dalam kepemilikan obligasi mencapai sebesar 13,39 persen. Nilai tukar Rupiah terhadap USD menguat pada perdagangan kemarin (22/1). Rupiah menguat sebesar 0,30 persen ke posisi Rp16.885 per USD (+1,17 persen ytd) dan diperdagangkan pada kisaran 16.885–16.925. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak di kisaran 8.924-9.020 dan Rupiah terhadap USD diprediksi berada pada interval 16.830-16.900.