Opini: Tinjauan Pasar Properti Asia Pasifik
Oleh: Anton Sitorus
Head of Research and Consulting CBRE Advisory Services Indonesia
Ada beberapa hal yang bisa di-highlight. Dari situasi perekonomian, pertumbuhan PDB Asia Pasifik diproyeksikan melambat menjadi 3,9 persen pada tahun 2026 dari 4,3 persen di 2025. Hal ini akibat pelemahan pertumbuhan di China, India, dan Jepang. Dengan suku bunga di sebagian besar pasar Asia Pasifik yang terus menurun sepanjang 2025, siklus penurunan suku bunga diperkirakan akan melambat lebih jauh atau berhenti pada tahun ini.
Kondisi pasar modal bisa dilihat dari volume investasi yang diperkirakan meningkat tahun ini seiring dengan naiknya minat pembelian. Dengan aktivitas penyewaan kantor di sejumlah kota yang kembali menguat, CBRE memperkirakan minat investor terhadap sektor perkantoran akan meningkat signifikan. Kompresi yield yang terbatas akan mengalihkan fokus investor menuju pertumbuhan sewa sebagai pendorong imbal hasil.
Situasi permintaan sewa sektor perkantoran diperkirakan akan menguat pada tahun 2026. Preferensi kuat para penyewa untuk berada di lokasi prime dengan gedung berkualitas tinggi akan mendorong aktivitas di pasar utama Asia. Permintaan ekspansif akan datang dari perusahaan teknologi, pengelola keuangan, dan jasa profesional.
Untuk segmen industri dan logistik, meskipun sebagian besar pasar logistik masih akan mencatat kenaikan sewa, momentumnya diperkirakan melambat karena penyewa menjadi lebih selektif dalam strategi ekspansi mereka.
Pasokan baru diproyeksikan turun drastis mulai tahun 2027 karena pengembang menyesuaikan diri dengan perlambatan pertumbuhan sewa. 3PL dan operator e-commerce akan tetap menjadi pendorong permintaan utama.
Seiring meningkatnya penjualan dan semakin jelasnya arah kebijakan perdagangan, aktivitas sektor ritel khususnya penyewaan di sebagian besar pasar diperkirakan akan terus menguat sejak tahun 2025. Biaya sewa diperkirakan akan mempertahankan tren kenaikan stabil yang didukung oleh tingkat kekosongan yang rendah di lokasi utama dan keterbatasan pasokan masa depan.
Sementara sektor perhotelan secara statistik menunjukkan perjalanan wisatawan yang hampir sepenuhnya pulih ke tingkat sebelum pandemi sehingga pertumbuhan tahun ini diperkirakan lebih lambat dibandingkan tahun lalu. Pariwisata berbasis acara atau event akan tetap menjadi pendorong pertumbuhan utama pada 2026. Meskipun RevPAR di sebagian besar pasar diperkirakan tetap tumbuh, laju pertumbuhan akan lebih terbatas karena penyesuaian tingkat ADR.