Jawab Tuntutan Pembangunan, IAI Dorong Penggunaan Baja
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) mendorong penggunaan material baja sebagai solusi konstruksi yang lebih cepat, fleksibel, dan ramah lingkungan untuk kebutuhan infrastruktur nasional. Hingga saat ini transformasi material baja terus berkembang dari industri konvensional menjadi pilihan strategis yang bisa menjawab tantangan pembangunan modern.
“Penggunaan baja saat ini bukan lagi opsi melainkan kebutuhan untuk menjawab tuntutan pembangunan yang cepat namun dengan durabilitas tinggi, smarter architecture memerlukan smarter architect,” ujar Georgius Budi Yulianto, Ketua Umum Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) melalui siaran pers yang dikutip Selasa (10/02).
Di dunia yang bergerak cepat, kita harus memilih material yang reasonable dalam hal kecepatan konstruksi, kemudahan modularitas, dan juga yang paling penting mempunyai porses keberlanjutan. Baja juga bisa menjadi respon terhadap perubahan zaman dan kebencanaan.
Dalam konteks aspek resiliensi, baja juga dipandang sebagai material yang “ramah kehidupan” terlebih Indonesia merupakan negara dengan wilayah rawan bencana dan baja menawarkan sistem konstruksi yang ringan namun kuat.
Arsitek Firma Setia Herwanto menambahkan, pentingnya melibatkan arsitek dalam pengembangan teknik konstruksi baja yang sesuai dengan karakteristik lokal. Untuk itu IAI mendorong arsitek dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua untuk mengeksplorasi pendekatan yang mencermikan kearifan lokal masing-masing daerah.
“Baja sangat mungkin dikembangkan menjadi berbagai teknik konstruksi yang berbeda. Kami tidak ingin inovasi ini hanya terpusat di wilayah Pulau Jawa, keragaman pendekatan dari berbagai daerah justru akan menjadi nilai jual yang unik di kancah internasional,” bebernya.
Baca juga: Fortress Lansir Emperor, Pintu Baja Baru Motif Kayu Lapis
Terkait ketersediaan baja berkualitas, IAI juga aktif mengedukasi para arsitek dan publik melalui program Continuous Professional Development (CPD). Budi mengingatkan bahwa tantangan utama bukan pada pasokan (supply) melainkan konsistensi kualitas.
“Saya terus mengimbah supaya pemilihan material tidak semata berdasarkan harga termurah dalam proses tender tetapi mempertimbangkan juga nilai yang masuk akal demi menjamin durabilitas bangunan secara jangka panjang,” katanya.
Sebagai persiapan menghadapi ASEAN Steel Architectural Awards 2026, IAI kini menggulirkan proses kurasi untuk menjaring karya-karya arsitektur terbaik dari seluruh penjuru Nusantara. Proses penjaringan ini dilakukan secara nasional dengan melibatkan Badan Penghargaan dan Badan Sayembara IAI yang tersebar di enam wilayah Indonesia.
“Fokus utama dari penghargaan ini tidak hanya tertuju pada kemegahan skala proyek semata melainkan pada kedalaman riset, inovasi material, serta sejauh mana karya tersebut memberikan dampak sosial nyata bagi masyarakat luas,” imbuhnya.
Baca juga: Material Baja Bisa untuk Arsitektur Estetik Hingga Resilient
Dalam rangkaian agendanya, IAI juga membangun kolaborasi lintas generasi dan disiplin dengan menggandeng perguruan tinggi serta para arsitek muda. Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong literasi desain yang lebih eksploratif, seperti tren desain organik dan curve linear yang kini tengah berkembang.
Melalui berbagai upaya ini, IAI berharap ajang ASEAN Steel Architectural Awards 2026 dapat menjadi pemantik bagi para praktisi untuk berani keluar dari zona nyaman dan menantang diri dalam berinovasi. Dengan mengedepankan kualitas dan fungsionalitas, IAI optimistis bahwa karya-karya anak bangsa mampu membuktikan posisi Indonesia sebagai pemimpin dalam kancah arsitektur baja di kawasan Asia Tenggara.