Jumat, Februari 20, 2026
HomeNewsLuar NegeriNeraca Pembayaran Indonesia 2025 Tekor USD7,8 Miliar

Neraca Pembayaran Indonesia 2025 Tekor USD7,8 Miliar

Bank Indonesia (BI) melalui Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso melaporkan Jumat (20/2/2026), Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) sepanjang 2025 mengalami defisit USD7,8 miliar (sekitar Rp131 triliun dengan kurs Rp16.800/USD).

Kinerja NPI 2025 itu melorot signifikan dibanding NPI 2024 yang mencatat surplus USD7,2 miliar (sekitar Rp120 triliun), dan surplus 2023 sebesar USD6,3 miliar (sekitar Rp105 triliun).

Neraca pembayaran adalah catatan transaksi ekspor impor barang dan jasa, serta catatan transaksi modal dan finansial (investasi), antara sebuah negara dan negara lain selama jangka waktu tertentu.

Neraca pembayaran terdiri dari neraca transaksi berjalan, serta neraca transaksi modal dan finansial. Neraca transaksi berjalan terdiri dari neraca perdagangan barang dan jasa, serta neraca pendapatan primer (imbal hasil investasi) dan sekunder (seperti remitansi dari pekerja migran).

Sedangkan neraca transaksi modal dan finansial terdiri dari investasi langsung, investasi portofolio (dalam surat berharga dan saham), dan investasi lainnya.

Neraca pembayaran yang surplus menunjukkan, ekspor lebih tinggi daripada impor, pendapatan dari investasi dan kiriman uang dari warga Indonesia di luar negeri lebih besar, dan penerimaan dari investasi asing lebih banyak daripada pembayaran kepada asing.

Surplus neraca pembayaran lazimnya menambah cadangan devisa, serta memperkuat ketahanan ekonomi sebuah negara terhadap gejolak ekonomi global, termasuk gejolak nilai tukar mata uang.

Secara terperinci, pada triwulan I 2025 NPI mencatat defisit USD1,5 miliar, triwulan II defisit USD6,7 miliar, triwulan III defisit 6,4 miliar, dan triwulan IV surplus USD6,1 miliar.

Kendati kinerja NPI merosot signifikan pada 2025 dibanding 2024, pada periode yang sama cadangan devisa RI justru meningkat. Dari 155,7 miliar pada akhir 2024 menjadi USD156,5 miliar pada akhir 2025.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” kata Ramdan.

Karena itu Bank Indonesia menilai, NPI 2025 tetap menunjukkan ketahanan sektor eksternal ekonomi Indonesia yang baik, di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.

Baca juga: Selama 2024 Surplus Neraca Pembayaran Indonesia Meningkat ​​​​​

Terlihat dari transaksi berjalan 2025 yang hanya mencatat defisit USD1,5 miliar (0,1 persen dari PDB), jauh lebih rendah dibanding defisit 2024 sebesar USD8,6 miliar (0,6 persen dari PDB).

Perkembangan ini dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang, seiring peningkatan kinerja ekspor, khususnya ekspor produk manufaktur.

Surplus neraca perdagangan barang 2025 mencapai USD49,8 miliar, lebih tinggi dibanding surplus 2024 sebesar USD39,8 miliar, ditopang kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas.

Sementara defisit neraca jasa 2025 naik menjadi USD19,8 miliar dari USD18,5 miliar pada 2024. Didorong terutama oleh kenaikan defisit jasa telekomunikasi sejalan dengan peningkatan kinerja sektor informasi dan komunikasi.

Kenaikan defisit juga terjadi pada neraca pendapatan primer sebesar USD38,2 miliar, lebih tinggi dibanding defisit 2024 sebesar USD35,8 miliar. Dipicu peningkatan pembayaran imbal hasil dan deviden atas investasi langsung dan portofolio investor asing.

Sedangkan neraca pendapatan sekunder mencatat peningkatan surplus. Sepanjang 2025 mencapai USD6,7 miliar, lebih tinggi dibanding surplus 2024 sebesar USD5,9 miliar. Didorong kenaikan penerimaan remitansi dari pekerja migran Indonesia (PMI).

Transaksi modal dan finansial 2025 mencatat defisit USD4,2 miliar dibanding surplus USD18 miliar pada 2024, didorong aliran keluar modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya, seiring dengan ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi, dan surplus investasi langsung yang lebih rendah.

“Ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi akibat kebijakan tarif Amerika Serikat (AS), dan ketegangan geopolitik global, mempengaruhi keyakinan investor dalam berinvestasi (di Indonesia),” jelas Ramdan.

Selama 2025, investasi langsung masih mencatat surplus USD14,1 miliar, namun lebih rendah dibanding surplus 2024 senilai USD15,9 miliar. Sedangkan investasi portofolio mencatat defisit USD9,4 miliar dibanding surplus USD8,2 miliar pada 2024.

Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati dinamika perekonomian global yang dapat memengaruhi prospek NPI, dan memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan pemerintah dan otoritas terkait.

BI memperkirakan, kinerja NPI 2026 tetap baik dengan defisit transaksi berjalan tetap rendah, dalam kisaran defisit 0,9 persen sampai dengan 0,1 persen dari PDB.

Berita Terkait

Ekonomi

Berita Terkini