Meskipun situasi ekonomi menghadapi ketidakpastian baru menyusul perang di Timur Tengah, Bank Indonesia tidak menaikkan BI Rate untuk menahan inflasi yang bisa makin meninggi dan menarik aliran masuk modal asing. Pada Januari-Februari inflasi tercatat tinggi sebesar 3,1 persen dan 4,6 persen.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, suku bunga BI-Rate pada Februari 2026 tetap dipertahankan pada level terendah sejak 2022 sebesar 4,75 persen, turun 150 bps sejak September 2024. Masing-masing 25 bps pada September 2024 dan 125 bps selama 2025.

Tujuannya mendorong peningkatan penyaluran kredit yang selanjutnya mendukung perrtumbuhan ekonomi. Untuk itu ekspansi likuiditas rupiah tetap ditempuh BI, melalui penurunan posisi instrumen moneter (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) SRBI dari Rp916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp831,55 triliun pada 13 Maret 2026.

Bank Indonesia juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) terbitan pemerintah, sebagai bentuk sinergi kebijakan moneter dan fiskal. Pada 2026 (hingga 16 Maret 2026) nilai pembelian mencapai Rp86,16 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder Rp46,72 triliun.

“Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian,” kata Perry dalam konferensi pers daring hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan BI, Selasa (17/3/2026).

Baca juga: BI: Likuiditas Makin Longgar, Penurunan Bunga Kredit Harus Makin Cepat

Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) juga terus dioptimalkan, untuk mendorong peningkatan kredit perbankan ke sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Implementasi penguatan KLM sejak 16 Desember 2025, diarahkan untuk memberikan insentif yang lebih tinggi bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor tertentu yang ditetapkan BI (lending channel), serta bank yang lebih responsif dalam menurunkan bunga kredit sejalan dengan arah penurunan suku bunga kebijakan (interest rate channel).

Insentif KLM yang diperoleh bank pada minggu pertama Maret 2026 mencapai Rp427,1 triliun dengan alokasi pada lending channel Rp357,6 triliun serta interest rate channel Rp69,5 triliun.

Berdasarkan kelompok bank, KLM disalurkan masing-masing kepada bank BUMN Rp225,6 triliun, BUSN (bank swasta) Rp165,8 triliun, BPD (bank daerah) Rp28,0 triliun, dan KCBA (bank asing) Rp7,7 triliun.

“Secara sektoral, KLM telah disalurkan ke sektor-sektor prioritas. Mencakup sektor pertanian, industri, dan hilirisasi, sektor jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate, dan perumahan, serta sektor UMKM, koperasi, inklusi, dan berkelanjutan,” jelas Gubernur Perry.