Jumlah Uang Beredar dan Transaksi Digital Tumbuh Tinggi
Uang beredar adalah indikator likuiditas perekonomian. Jumlah uang beredar yang kian besar, menunjukkan makin meningkatnya aktivitas ekonomi atau transaksi.
Bank Indonesia melaporkan pekan ini, pertumbuhan jumlah uang beredar tetap terjaga sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia mendorong efektivitas ekspansi likuiditas moneter.
Pertumbuhan M0 (uang primer/uang kertas dan logam plus cadangan bank di BI) pada Februari 2026 tercatat sebesar 13,3 persen (yoy). Lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 sebesar 11,0 persen (yoy).
Dari komponennya, pertumbuhan M0 pada Februari 2026 dipengaruhi oleh meningkatnya pertumbuhan uang kartal (uang kertas dan logam), seiring dampak kebutuhannya oleh masyarakat pada periode Ramadan dan Idulfitri.
Dari faktor yang memengaruhi, meningkatnya pertumbuhan M0 pada Februari 2026 itu, didorong oleh ekspansi fiskal (belanja pemerintah yang ngegas pada awal tahun) dan strategi operasi moneter oleh BI.
Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Januari 2026 juga meningkat dari 9,6 persen (yoy) pada Desember 2025, menjadi 10,0 persen (yoy).
Dari faktor yang memengaruhi, pertumbuhan M2 yang lebih tinggi itu, dipengaruhi oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (karena ekspansi fiskal tersebut), dan peningkatan penyaluran kredit.
Juga meningkat tinggi, pertumbuhan transaksi ekonomi dan keuangan digital. Pada Februari 2026 volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,67 miliar transaksi atau tumbuh 40,35 persen (yoy), didukung perluasan akseptasi pembayaran digital.
Volume transaksi melalui aplikasi mobile dan internet masing-masing tumbuh 9,49 persen (yoy) dan 22,16 persen (yoy), termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 133,20 persen (yoy). Kinerja positif tersebut didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST, mencapai 434 juta transaksi atau tumbuh 31,49 persen (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.092 triliun pada Februari 2026.
Baca juga: BI: Transaksi Digital Melesat, Mitigasi Risiko Perlu Diperkuat
Sementara volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,76 juta transaksi atau melambat 5,33 persen (yoy), seiring belum cukup bergairahnya dunia usaha, kendati nominal transaksi tetap tumbuh 9,19 persen (yoy) mencapai Rp16.105 triliun pada Februari 2026.
Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,78 persen (yoy) menjadi Rp1.287 triliun pada Februari 2026.