Sabtu, Maret 21, 2026
HomeNewsEkonomiMudik Lebaran Naikkan Konsumsi Rumah Tangga 15-20 Persen

Mudik Lebaran Naikkan Konsumsi Rumah Tangga 15-20 Persen

Mudik Idulfitri merupakan fenomena yang secara konsisten mendorong peningkatan aktivitas ekonomi nasional. Karakteristiknya yang massal, terjadwal, membuat mudik memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap ekonomi, karena mendorong peningkatan sektor riil secara simultan.

Menurut Juru Bicara Kemenko Perekonomian Haryo Limanseto dalam keterangan yang dipublikasikan Jumat (20/3/2026), berdasarkan data historis, tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya kecepatan perputaran uang (velocity of money) selama mudik, mendorong kenaikan konsumsi rumah tangga antara 15–20 persen, dan pendapatan pelaku UMKM daerah antara 50–70 persen.

“Jadi, secara empiris mudik Idulfitri telah terbukti menjadi instrumen penguatan ekonomi yang konsisten dan terukur. Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan, aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara tahunan (yoy),” kata Haryo.

Baca juga: Jumlah Pemudik Lebaran 2026 Diperkirakan Menurun

Kontribusi tersebut terjadi melalui redistribusi aliran uang dari pusat aktivitas ekonomi ke berbagai wilayah, sehingga memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan peredaran uang secara lebih merata.

“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan jasa transportasi. Pendapatan mereka meningkat,” jelas Jubir Haryo.

Pada mudik Idulfitri 2026, pemerintah optimistis aktivitas ekonomi meningkat dibanding mudik Lebaran 2025. Pada mudik Idulfitri 2025 pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang.

“Pergerakan dan belanja masyarakat pada Idulfitri 2026 diharapkan makin meningkat, agar mampu menunjang target pertumbuhan ekonomi tahunan sebesar 5,5-5,6 persen (yoy),” ujar Haryo.

Baca juga: Pemudik Lebaran Tahun Ini Turun 4,69 Persen

Optimisme itu didukung berbagai kebijakan. Antara lain stimulus fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjelang Idulfitri, serta diskon tarif transportasi senilai Rp911,16 miliar.

Selain itu ada juga program Mudik Gratis untuk meringankan biaya perjalanan masyarakat selama mudik, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA) ASN.

Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), berbagai stimulus tersebut diproyeksikan mampu memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi nasional.

Kebijakan WFA telah menjadi inovasi strategis yang tidak hanya berfokus pada penguraian kepadatan arus mudik, tapi juga memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman.

Baca juga: H-2 Lebaran Tiket Kereta Api Masih Tersedia Banyak

Dengan tetap menjalankan pekerjaan dari jauh dan menerima pendapatan secara penuh, pemudik memiliki ruang waktu yang lebih panjang untuk beraktivitas dan berbelanja, sehingga mendorong peningkatan perputaran uang dan memperkuat aktivitas ekonomi selama periode Idulfitri

“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga,” pungkas Juru Bicara Haryo.

Berita Terkait

Ekonomi

Antisipasi Dampak Konflik Timur Tengah, Pemerintah Mau Hemat BBM dengan WFH

Pemerintah terus memperkuat ketahanan fiskal nasional di tengah dinamika...

Likuiditas di Pasar Diupayakan Tetap Longgar

Meskipun situasi ekonomi menghadapi ketidakpastian baru menyusul perang di...

Siap-Siap Menghadapi Pemburukan Ekonomi

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan perang di...

Kadin Paparkan 3 Hal Supaya Ekonomi Bertahan di Tengah Konflik Timur Tengah

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi DKI Jakarta menggelar...

Berita Terkini