Senin, Maret 23, 2026
HomeNewsEkonomiFebruari Penyaluran Kredit Menurun Lebih Dalam

Februari Penyaluran Kredit Menurun Lebih Dalam

Pada bulan pertama 2026 industri perbankan mencatat kinerja yang cukup baik, dengan meraup laba bersih Rp22,7 triliun, atau tumbuh 8,92 persen secara tahunan (yoy). Tapi, capaian itu lebih karena didorong penurunan biaya dana dan efisiensi biaya operasional, ketimbang ekspansi kredit.

Terlihat dari pendapatan bunga yang stabil di kisaran Rp97 triliunan, yang mengindikasikan belum cukup bergairahnya penyaluran kredit. Penyaluran kredit Januari 2026 tumbuh 9,96 persen (yoy), hanya sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 9,63 persen (yoy).

Pada Februari 2026, menurut hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia yang dirilis Selasa (17/3/2026), penyaluran kredit bahkan merosot lagi menjadi 9,37 persen (yoy). Lebih rendah daripada pertumbuhan kredit per D4esember 2025.

Karena itu BI menilai pertumbuhan kredit perbankan perlu terus diperkuat, guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Masih sama seperti tahun 2025, pertumbuhan kredit perbankan Februari 2026 itu terutama ditopang kredit investasi yang tumbuh tinggi sebesar 20,72 persen (yoy). Indikator banyaknya dunia usaha yang menyiapkan investasi baru.

Sedangkan kredit modal kerja dan kredit konsumsi, hanya tumbuh 3,88 persen (yoy) dan 6,34 persen (yoy), yang menunjukkan belum bergairahnya dunia usaha eksisting dan belum cukup kuatnya daya beli masyarakat.

Baca juga: Januari Penyaluran Kredit Naik, Juga Kredit Macetnya

Bank Indonesia memprakirakan, pertumbuhan kredit 2026 akan berada di kisaran 8-12 persen, dipengaruhi sisi permintaan dan penawaran.

Dari sisi permintaan, pemanfaatan pembiayaan perbankan dapat ditingkatkan, terutama dengan mengoptimalkan fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang masih cukup besar, mencapai Rp2.536,40 triliun atau 22,86 persen dari plafon kredit yang disetujui. Belum banyak berubah dari angka undisbursed loan bulan-bulan sebelumnya.

Dari sisi penawaran, kapasitas pembiayaan bank tetap memadai. Ditopang rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 27,40 persen, dan DPK (simpanan masyarakat) yang tumbuh tinggi 13,18 persen (yoy) pada Februari 2026.

Minat penyaluran kredit oleh perbankan juga lebih baik. Tercermin dari persyaratan pemberian kredit (lending requirement) yang longgar, kecuali untuk kredit konsumsi dan UMKM akibat masih tingginya risiko kredit pada kedua segmen tersebut akibat lemahnya daya beli dan kondisi usaha UMKM pasca pandemi.

Ketahanan perbankan juga tetap kuat, sehingga diprakirakan dapat memitigasi risiko dampak dari perang Timur Tengah. Ditandai dengan likuiditas yang memadai, kapasitas permodalan yang terjaga pada level tinggi, dan risiko kredit yang tetap rendah.

Baca juga: Awal Tahun Belanja Pemerintah Ngegas, Kredit Tumbuh Double Digit

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan pada Januari 2026 tercatat tinggi sebesar 25,87 persen, tergolong kuat menyerap risiko dan mendukung pertumbuhan kredit.

Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) perbankan secara agregat tetap rendah, sebesar 2,14 persen (bruto) dan 0,82 persen (neto) pada Januari 2026.

“Hasil stress test Bank Indonesia menunjukkan, ketahanan perbankan tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, termasuk dari dampak rambatan gejolak global perang Timur Tengah, yang ditopang kemampuan bayar dan profitabilitas korporasi yang tetap terjaga,” tulis laporan BI tersebut.

Tapi, ya itu, kendati kondisi perbankan positif, likuiditas memadai, minat penyaluran kredit makin baik, kondisi ekonomi yang masih terus diliputi ketidakpastian dan belum cukup kuatnya daya beli, membuat perbankan berhati-hati menurunkan bunga dan menyalurkan kredit guna meminimalisir risiko.

Berita Terkait

Ekonomi

Bank BNI Permudah Layanan Perbankan Saat Arus Mudik Lebaran

Bank BNI menghadirkan layanan Agen46 di sejumlah titik strategis...

Bank BJB Helat Event Lari yang Hubungkan Kompetisi, Bisnis, Hingga Tourism

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, bank bjb meluncurkan rangkaian event...

Jumlah Uang Beredar dan Transaksi Digital Tumbuh Tinggi

Uang beredar adalah indikator likuiditas perekonomian. Jumlah uang beredar...

Likuiditas Longgar, Tapi Penurunan Bunga Simpanan di Bank Masih Terbatas

Peningkatan ketidakpastian baru menyusul perang di Timur Tengah, tidak...

Berita Terkini