Kamis, Maret 26, 2026
HomeNewsEkonomiRedam Kenaikan Yield SBN, Menkeu Suntik Lagi Likuiditas Rp100 Triliun ke Bank...

Redam Kenaikan Yield SBN, Menkeu Suntik Lagi Likuiditas Rp100 Triliun ke Bank BUMN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana pemerintah ke perbankan senilai Rp100 triliun, guna meredam kenaikan imbal hasil (yield) surat utang negara (SBN) akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

“Suntikan likuiditas itu kita lakukan seminggu sebelum Lebaran,” kata Purbaya dalam media briefing di Jakarta, Rabu (25/3/2026). Dana Rp100 triliun itu ditempatkan di bank-bank BUMN anggota Himbara.

September tahun lalu Menkeu Purbaya telah menempatkan dana pemerintah di BI senilai Rp200 triliun ke Himbara. Penempatan dana itu diperpanjang dari semula sampai Maret menjadi September 2026. Dengan demikian total penempatan dana pemerintah di bank Himbara menjadi Rp300 triliun.

Berbeda dengan penempatan dana Rp200 triliun dengan skema enam bulan, suntikan likuiditas Rp100 triliun kali ini memiliki tenor sangat fleksibel dan dapat ditarik sewaktu-waktu.

Menkeu menyebutkan, penempatan dana pemerintah di Himbara tidak masalah, karena posisi kas negara di Bank Indonesia (BI) masih cukup tebal sekitar Rp400 triliun.

Purbaya memberi kelonggaran ke perbankan dalam pemanfaatan dana Rp100 triliun tersebut. Tidak difokuskan untuk membiayai sektor riil seperti dana yang Rp200 triliun, melainkan untuk menyerap instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang yield-nya meningkat.

Yield SBN meningkat bila permintaan atau harganya melemah, dan sebaliknya yield-nya menurun bila permintaannya meningkat. Peningkatan yield SBN akan membebani keuangan negara, karena pemerintah harus membayar bunga atau imbal hasil lebih tinggi kepada investor.

Baca juga: Menkeu: Ekonomi Indonesia Akan Terus Berekspansi Sampai 2033

Menurut Menkeu, di tengah ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik di Timur Tengah, perbankan cenderung mencari instrumen berisiko rendah (risk-free) dengan return yang pasti untuk menempatkan dananya, sebelum menyalurkan likuiditas tersebut untuk membiayai sektor riil.

Salah satu instrumen risk free itu adalah obligasi atau surat utang negara (SUN) atau SBN. Penempatan dana Rp100 triliun itu oleh perbankan di SBN, secara teoritis akan mendorong kenaikan harga obligasi SUN dan menekan yield-nya.

Yield SBN sendiri terus meningkat dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah. Mengutip Bloomberg Technoz, pada perdagangan Rabu (25/3/2026) siang pukul 11.50 WIB, yield SUN tenor satu tahun (1Y) naik 21,4 bps menjadi 6,14 persen.

Juga naik yield SUN tenor 3Y dan 4Y masing-masing 14,2 bps dan 13,1 bps ke level 6,36 persen dan 6,6 persen, tenor 5Y 11,4 bps ke 6,67 persen, yield 6Y 7,8 bps ke 6,89 persen, yield 8Y 5,6 bps ke 6,95 persen, yield 9Y 6,5 bps ke 7,01 persen, tenor 10Y 7,9 bps ke 6,94 persen, tenor 20Y dan 30Y masing-masing 3,3 bps dan 2,3 bps menjadi 6,93 persen, dan tenor 40Y 2,7 bps ke 6,84 persen.

Berita Terkait

Ekonomi

Respon Pesimisme Pengamat, Pemerintah Kembali Tegaskan Ekonomi RI Tetap Kuat

Pemerintah terus mencermati perkembangan dinamika global, yang ditandai dengan...

Purbaya Optimistis Triwulan I Ekonomi Tumbuh 5,7 Persen, Para Ekonom Tidak

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis ekonomi Indonesia bisa...

Februari Penyaluran Kredit Menurun Lebih Dalam

Pada bulan pertama 2026 industri perbankan mencatat kinerja yang...

Bank BNI Permudah Layanan Perbankan Saat Arus Mudik Lebaran

Bank BNI menghadirkan layanan Agen46 di sejumlah titik strategis...

Berita Terkini