Beralih Ke Lampu Ramah Lingkungan
Penggunaan lampu ramah lingkungan menghemat biaya sekaligus membantu mengurangi emisi gas buang.
Salah satu cara memerangi pemanasan global (global warming) yang sekarang menjadi isu santer, adalah dengan mengganti lampu lama di rumah Anda. Ya, karena saat ini, menurut International Energy Agency, hampir 20 persen konsumsi listrik di dunia digunakan untuk pencahayaan (lighting).
“Di Indonesia mungkin bisa dua kali lipat, 40 persen dari energi listrik digunakan untuk pencahayaan,” kata Presiden Direktur PT Philips Indonesia Rob Fletcher. Untuk itu kita perlu segera beralih memakai jenis lampu dengan teknologi yang hemat energi dan ramah lingkungan. Konsumsi energi yang rendah akan menghemat biaya dan berdampak terhadap pengurangan emisi gas buang (CO2).
Lampu pijar boros
Mungkin hampir 80 persen lampu di rumah kita masih lampu pijar yang cahayanya kuning, karena harganya lebih ekonomis. Padahal pemakaian energinya boros sekali. Sumber cahaya lampu pijar dan lampu halogen berasal dari panas (thermal). Proses pemanasan filament tungsten sebagai penghasil cahaya memakai hampir 90 persen energinya. Jadi, lebih banyak energi yang terbuang menjadi panas dan hanya 10 persen yang menjadi cahaya.
Bandingkan dengan compact fluorescent lamps (CFL) yang lebih hemat energi meskipun harganya lebih mahal. Cara kerjanya mirip lampu fluorescent (lampu neon). Melalui pemanasan elektroda yang menghasilkan elektron lalu berkoalisi dengan atom merkuri, hingga menjadi radiasi ultraviolet (UV) yang tidak terlihat. Sinar UV itu mengenai bubuk fosfor/fluorescent hingga menghasilkan cahaya.
“Jadi proses pemanasan cuma di awal, sisanya proses reaksi. Energi yang dibuang jadi panas sangat sedikit, yang jadi cahaya sangat besar,” jelas Stephen Gunawan, Marketing Manager PT Simbarco Kencana, distributor Megaman dan Leuch’Tech asal Jerman.
Sebagai ilustrasi, suhu lampu pijar 40 watt sekitar 133 derajat celcius, sedangkan CFL 9 watt yang menghasilkan terang setara, hanya memancarkan panas sekitar 57 derajat celcius. CFL disebut juga integrated ballast lamp, karena dibentuk dengan mengintegrasikan komponen ballast elektronik sebagai penyampai energi ke dalam badan lampu. Sedangkan lampu fluorescent biasa memakai ballast magnetic yang terpisah di luar.
Kandungan merkuri yang termasuk racun berbahaya bagi manusia, memang belum bisa dihilangkan pada jenis lampu fluorescent karena diperlukan untuk reaksi. Tapi, pemakaiannya sudah dibatasi tidak lebih dari 3 mg.
Lima kali Lebih terang
Umur lampu pijar umumnya hanya 1.000 jam, sementara Lampu Hemat Energi (LHE) seperti CFL bisa 6.000-15.000 jam. Perhitungan daya listrik dan terang cahaya LHE dibanding lampu pijar rata-rata lima kali lipat. Misalnya, LHE 12 watt menghasilkan tingkat terang setara lampu pijar 60 watt.
Karena itu penggunaan LHE bisa menghemat listrik hingga 80 persen atau senilai EUR 12 (Rp150.960) dan 34 kg CO2 per lampu per tahun. Secara global penggunaan teknologi LHE bisa menghemat energi hingga 40 persen atau EUR 106 miliar. Setara dengan 555 juta ton CO2 atau 1.560 juta barel minyak per tahun.
Menariknya kesadaran untuk memilih produk LHE ternyata cukup berkembang di Indonesia. Menurut Rob Fletcher, pasar di Indonesia hingga saat ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dan tercepat dalam beradaptasi ke produk LHE, dibanding pasar lain di dunia. Sedikitnya dalam satu rumah sudah ada satu LHE. “Suplai listrik yang kadang tidak stabil, bisa juga menjadi salah satu pendorongnya. Teknologi lampu konvensional tidak mungkin bertahan lama dengan kondisi seperti itu,” kata pria kelahiran Australia 48 tahun silam itu.
Bukan hanya CFL
Perkembangan teknologi LHE sudah semakin beragam. Bentuk dan ukuran jenis CFL kini lebih kompak (kecil) dari sebelumnya. Warna cahayanya fleksibel mulai dari putih (coolday light) hingga kekuningan (warm white). Jadi, aplikasinya tidak terbatas untuk keperluan general lighting (pencahayaan umum).
Megaman misalnya, memiliki produk lampu sorot dengan reflektor sebagai pengganti lampu halogen. Juga lampu berukuran tipis untuk disembunyikan di balik furniture, hingga lampu tipe candle untuk lampu hias kristal. “Sekarang visinya membuat LHE untuk semua kebutuhan agar bisa diaplikasikan untuk memenuhi fungsi-fungsi desain,” ujar Stephen.
Sementara Philips sudah melansir rangkaian produk berbasis teknologi terbaru LED (light emitted diode) untuk pencahayaan dekoratif. Energi yang digunakan lebih hemat hingga 90 persen. Ukurannya kecil dan fleksibel untuk diaplikasikan dalam desain. Jenis lampu ini juga tidak mengandung merkuri sehingga lebih ramah lingkungan.
“Ada juga CDM (ceramic discharge metal halide) untuk lampu display, dan lampu fluorescent hemat energi tipe TL5 dengan diameter lebih kecil daripada tipe T8,” kata Hendra Rusmana Liu, Senior Marketing Manager Lighting Commercial PT Philips Indonesia. Halimatussadiyah, Bunga Pertiwi.
Dok. Housing Estate


